Produser film bersama para pemain merilis buku berjudul sama jelang penayangan 'Gunung Kawi'.
- Tim WowKeren
- Senin, 23 Januari 2017 - 10:04 WIB
WowKeren - Film horor baru berjudul "Gunung Kawi" akan ditayangkan pada 15 Februari 2017. Untuk mendukung hal tersebut, sebuah novel dengan judul sama pun dirilis.
Dengan adanya novel tersebut diharapkan bisa menjawab rasa penasaran terhadap film "Gunung Kawi". "Ini untuk mengungkap rasa penasaran mereka (calon penonton). Biar masyarakat juga bisa tahu bedanya antara film dengan buku (Gunung Kawi)," ujar produser Shanker RS, saat ditemui usai peluncuran buku Gunung Kawi di Gramedia Metropolitan Mall, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (22/1).
Shanker menambahkan langkah untuk membuat novel dari film ini memang sudah lama direncanakan dan dijadwalkan untuk dirilis pada bulan Desember lalu. Hanya saja hal itu urung terjadi karena film "Gunung Kawi" sendiri harus mengalami penundaan.
"Rencananya memang dari awal (rilis) buku duluan baru film. Sebenarnya mau launching bulan Desember kemarin tapi nggak jadi. Jadinya di sini saja," ungkapnya. Ruwi Meita selaku penulis buku tersebut mengungkapkan dirinya memang memiliki latar belakang menulis novel bergenre horor. Alhasil ketika dia mendapatkan tawaran untuk menulis novel berdasarkan cerita dalam film, Ruwi pun langsung mengamini.
"Saya dihubungi katanya butuh penulis untuk adaptasi film ini. Kebetulan branding saya kan memang di thriller, horor, akhirnya saya mengiyakan dan menulis novel ini selama 3 minggu," ucapnya. Ruwi melihat ada keuntungan tersendiri dengan diadaptasinya film "Gunung Kawi" ke dalam sebuah novel. Pasalnya mereka yang ingin menonton akting Roro Fitria dan kawan-kawan bisa berimajinasi mengenai jalan ceritanya.
"Kisah 'Gunung Kawi' lebih banyak dalam skenario. Namun ketika dibuat menjadi novel, deskripsi yang ada dibuat menjadi lebih detil dan pembaca akan merasakan sesuatu yang berbeda," ungkapnya.
Tidak lupa Shanker memberikan ada pesan yang ingin disampaikan pihaknya dengan rilisnya novel Gunung Kawi dan jadwal penayangan film tersebut. "Ketika orang ingin ambil jalan pintas, itu ada konsekuensinya. Tentunya itu bukan hal yang murah," terangnya.
(wk/)