Berikut ini penyebab manusia nggak bisa jauh dari musik.
- Tim WowKeren
- Selasa, 28 Februari 2017 - 12:44 WIB
WowKeren - Seringkali mendengarkan lagu favorit dapat membawa perasaan senang dan larut dalam irama musik. Nggak hanya membawa kebahagiaan, beberapa lagu dapat sangat melekat di otak dan mengubah suasana hati. Yang sedih bisa langsung sumringah, yang bahagia bisa saja galau hanya karena mendengar lagu.
Bukan hanya karena lirik atau instrumen yang digunakan ternyata ada sebuah senyawa kimia dalam otak yang berperan dalam merespon musik. Dilansir dari laman Live Science, peneliti senior Daniel Levitin, seorang Profesor Psikologi di Universitas McGill, Kanada mengatakan jika hormon opioid berperan penting dalam menciptakan efek ketagihan pada musik.
Levitin menjelaskan rasa senang atau penghargaan melewati dua tahap dalam otak. Pertama, tahap antisipatif atau keinginan didorong oleh dopamin. Kemudian dalam tahap "menyukai" rasa tersebut didorong oleh opioid dalam otak.
Untuk melihat lebih lanjut, peneliti mengumpulkan 15 peserta yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberikan plasebo sementara sisanya diberikan naltrexone, obat sintetis yang mirip dengan morfin dan berguna untuk memblokir reseptor opiat di sistem saraf.
Sebelumnya, mereka diminta memilih dua lagu paling menyenangkan. Nggak hanya dua lagu pilihan, peneliti juga menambahkan satu musik netral yang tidak seharusnya mendapat tanggapan. Dalam penelitian ini, peneliti akan memperhatikan setiap mikro ekspresi yang ditunjukan peserta seperti tersenyum dan mengerutkan dahi saat mendengarkan musik.
Hasilnya mereka yang diberikan naltrexone cenderung menunjukkan penurunan ekspresi terhadap semua musik. Reaksi subjektif peserta hanya sedikit berubah ketika mereka mendengarkan musik yang netral. Levitin mengatakan, para peserta mengaku merasakan perasaan berbeda saat mendengarkan musik pilihan mereka.
Peserta mengaku kehilangan kesenangan yang biasa mereka rasakan saat mendengarkan musik tersebut. "Satu peserta yang menerima naltrexone mengaku nggak merasa seperti biasa terhadap lagu favoritnya," ujar Levitin.
Meskipun demikian, para peneliti mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan karena belum mendapat hasil yang dapat mencakup semua jenis populasi.
(wk/)