Berikut orang-orang yang memilih kembali hidup di hutan dan meninggalkan duniawi.
- Tim WowKeren
- Senin, 05 Juni 2017 - 18:18 WIB
WowKeren - Dunia ini memberikan banyak kenikmatan yang tak terhingga. Entah kuliner yang terus inovasi, uang yang selalu ada dan kemewahan dimana-mana. Namun sepertinya nggak semua orang berpikiran sama. Hidup yang begitu indahnya ini nggak berarti apa-apa.
Bahkan ada sebagian orang yang kembali ke alam dan tinggal di sana untuk merasakan hidup yang sesungguhnya. Berikut orang-orang yang memilih kembali hidup di hutan dan meninggalkan duniawi:
Ho Van Lang

Ho Van Lang yang kini telah berusia 44 tahun dikatakan telah hidup di hutan bersama sang ayah yang bernama Ho Van Thanh selama 41 tahun di dalam hutan. Selama hidup di hutan, dia hidup hanya dengan sang ayah dan tak pernah melakukan komunikasi dengan manusia lainnya. Awal pertama Ho Van Lang tinggal di hutan yakni saat ia berusia 2 tahun.
Saat itu, dia diajak sang ayah melarikan diri ke dalam hutan untuk menghindari perang Vietnam. Ibunya dan beberapa saudaranya telah meninggal dunia oleh ledakan tambang. Shock dengan kejadian yang menimpa istri dan anak-anaknya yang lain, sang ayah lantas membawa Ho Van Lang ke dalam hutan dan tak pernah membawanya kembali ke rumah.
Colbert

Seorang perencana keuangan merasa nggak bahagia dan memilih hidup di rawa. Bahkan Colbert yang berusia 64 tahun itu rela menukar gajinya setiap bulan sebesar USD 10 ribu atau sekitar Rp 130 juta untuk hidup secara primitif di Georgia yang penuh dengan aligator.
Di sana dia membangun rumah pohon, berenang di sungai dan bermain di hutan. Dia membangun kabin kayu dan perabotannya dari bahan yang dikumpulkannya dari hutan dan hidup tanpa listrik atau air mengalir.
Antonio Vicente

Antonio Vicente yang berusia 83 tahun telah menghabiskan empat dasawarsa terakhir hidupnya melawan arus. Sebagai pemilik tanah Brasil menebang hutan hujan untuk memberi ruang bagi perkebunan yang menguntungkan dan tempat penggembalaan ternak, dia berjuang untuk membawa hutan subur masa kecilnya kembali hidup. Saat ini, upayanya dihargai karena tanah yang benar-benar dilucuti dia pernah mulai menanam pohon pada 40 tahun yang lalu, telah menjadi hutan yang indah yang penuh dengan satwa liar tropis.
Saat itu tahun 1973 ketika Antonio menghadapi tantangan untuk memulihkan hutan di atas lahan seluas 31 hektar yang telah dihancurkan karena penggembalaan ternak. Ironisnya, dia membeli tanah di pinggiran Sao Pablo, di wilayah Sao Paulo Brasil, menggunakan kredit yang diberikan pemerintah militer untuk mempromosikan deforestasi dan investasi pada teknologi pertanian maju. Tapi Antonio tidak berniat menggunakan uang tersebut untuk mendongkrak pertanian nasional. Dia hanya ingin menghidupkan kembali hutan.
Pamela Gale Malhotra dan Anil Malhotra

Pamela Gale Malhotra dan suaminya, Anil Malhotra, memiliki Sai Sanctuary, satu-satunya suaka margasatwa pribadi di India. Dia dan suaminya telah berhasil menanam kembali dan melindungi hutan dan satwa liar sejak didirikan pada tahun 1991.
Hingga kini SAI Sanctuary mencakup lebih dari 300 hektar satwa liar yang merupakan rumah bagi Lebih dari 200 spesies tumbuhan dan hewan yang terancam punah termasuk gajah Asia dan harimau Bengal. "Ladang sawah, kopi dan kapulaga terbengkalai juga. Banyak penggundulan hutan telah terjadi. Dan itu butuh banyak, banyak perawatan dan energi dan waktu dan tahun untuk mengembalikannya," ungkap Pamela.
Angelo Valkenborg

Pria 31 tahun ini memiliki segalanya, pekerjaan mapan, istri cantik dan juga rumah yang nyaman di Belgia. Jika bagi banyak orang hal tersebut sudah sangat membahagiakan tapi ternyata tidak begitu dengan Angelo. Dia merasa masih belum menemukan kebahagiannya yang sebenarnya.
Akhirnya dia menyadari satu keinginannya yang sejak lama terpendam. Benar sekali, dia ingin hidup bebas di alam sebagai hunter-gatherer seperti yang dilakukan nenek moyang dulu. Tentu saja hal ini ditentang oleh sang istri. Hingga ujungnya Angelo dihadapkan dengan dua pilihan, tetap menjalani hidupnya yang sekarang atau mengikuti kata hatinya. Ternyata dia memilih tinggal di hutan.
Kini Angelo tinggal di sebuah hutan di Slovenia dan benar-benar mandiri dengan tidak bergantung kepada apa pun selain alam dan peralatan survival. Nggak hanya berbekal peralatan bertahan hidup, dia sendiri tahu betul bagaimana menjalani hidup di alam. Pria nyentrik ini sudah hampir empat tahun mempelajari apa pun tentang survival.
Tan Danlia

Di daerah Chaimen, Nanxiang, Tiongkok hiduplah seorang gadis kecil yang berusia sekitar 8 tahun dan ayah angkatnya. Gadis tersebut bernama Tan Danlia yang tinggal di dalam hutan belantara sejak masih kecil. Tan dan ayahnya tinggal di sebuah rumah yang nggak layak huni dimana atapnya sudah keropos dan bocor.
Meski menjadi gadis hutan, Tan tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang anak. Dia tetap pergi ke sekolah setiap harinya meski harus menempuh perjalanan hingga 2 km. Bahkan ia bercita-cita ingin mengubah kondisi ekonominya suatu saat nanti. Semoga cita-citamu terkabul suatu saat nanti, Tan.
Mohammad Dris

Pembangunan yang dilakukan pemerintah terkadang harus mengorbankan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Dan hal tersebut terjadi pada Mohammad Dris yang harus rela tinggal di gubuk tua di hutan Kuala Lumpur, Malaysia.
Pada mulanya Dris bekerja sebagai penyadap karet. Namun karena lahan karet tersebut tak mampu lagi menghasilkan karet, Dris harus rela kehilangan satu-satunya pekerjaan untuk menghasilkan uang. Karenanya, sejak tahun 1980, dia memutuskan untuk tinggal di dalam hutan. Lebih mirisnya lagi, Dris tak pernah menikah. Itu artinya ia tak punya istri apalagi anak untuk mengurusinya yang semakin hari semakin menua.
Banyak hal yang membuat orang-orang ini tinggal di hutan. Ada yang tergerak menyelamatkan hutan dan penghuninya namun nggak jarang pula malas dengan ragam duniawi. Namun apapun itu mereka berusaha mencari kebahagiaan di dalam hati.
(wk/)