Dari Film Hingga Medsos, 5 Penyebab Ini Bisa Picu Orang Jadi Seorang Pembully
SerbaSerbi

Berikut 5 faktor yang bisa menyebabkan orang menjadi seorang pengganggu.

WowKeren - Kasus bully atau perudungan kembali menjadi topik yang sedang hangat dibicarakan. Ada 2 kejadian di Jakarta berkaitan dengan perlakuan kasar teman-teman. Bahkan ada yang melakukan kekerasan secara fisik. Hal ini jelas menyadarkan bahwa perudungan masih menjadi masalah di Indonesia.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Douglas Gentile dan Brad Bushman dalam Psychology of Popular Media Culture disebutkan bahwa anak-anak yang terlihat baik juga memiliki risiko untuk menjadi seorang pengganggu dan memiliki beberapa perilaku yang agresif. Dari sana juga diketahui bahwa ada faktor yang membuat anak menjadi seorang pengganggu. Berikut 5 faktor yang bisa menyebabkan orang menjadi seorang pengganggu:

Kondisi Politik Indonesia

Psikolog peneliti bullying Dra Ratna Djuwita, Dipl, Psych mengatakan paparan terhadap kekerasan tersebut menurut Ratna bisa datang dari mana saja termasuk kondisi politik Indonesia yang memang sedang memanas.

"Situasi politik kita kan mereka bisa lihat kita saling mengejek. Itu sudah biasa kan? Di acara-acara televisi, di film, bahkan dalam dunia nyata itu terjadi. Kalau tidak ada yang mengcounter mengatakan 'ini sebetulnya tidak baik'... dalam jangka waktu lama akan tertanam dalam diri," papar dosen pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Kurang Perhatian

Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.

Biasanya rasa mengganggu juga didapat karena terjadi permusuhan. Merasa dimusuhi akan membuat anak merasa dendam dan ingin membalasnya.

Gender Laki-Laki


Seringkali orang menilai bahwa menjadi seorang laki-laki harus kuat dan tak kalah saat berkelahi. Hal ini secara tak langsung menjadi image kuat yan menempel pada anak laki-laki.

Mereka harus mendapatkan pengakuan bahwa mereka lebih kuat dibanding teman laki-laki lainnya. Akhirnya perilaku ini membuat mereka lebih cenderung agresif secara fisik.

Riwayat Korban Kekerasan

Kadang berkelahi untuk membuktikan kekuatan bisa menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.

Namun bisa juga anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung balas dendam pada temannya di luar rumah.

Ekspos Kekerasan dari Media

Televisi, video game, media sosial dan film banyak menyuguhkan adegan kekerasan atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini. Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata.

"Sebaiknya dampingi dan beri pengertian pada anak saat menonton film beradegan kekerasan atau bermain video game perkelahian. Karena pengaruh media inilah yang 80 persen bisa membuat perilaku anak menjadi negatif dan terinspirasi untuk melakukannya," saran Douglas Gentile dan Brad Bushman.

Kekerasan yang terjadi nggak hanya verbal tapi juga fisik bukan hanya jadi tugas guru di sekolah. Orangtua pun menjadi pembimbing utama agar sikap agresif anak-anak tidak mengganggu yang lain.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait