Medsos Bikin Semua Orang Bebas Berpendapat, 7 Hal Buruk Bikin Stres Bila Lama-Lama di Dunia Maya
SerbaSerbi

Berikut hal-hal lain yang terjadi di dunia maya saat kebebasan berbicara dibiarkan tanpa pengaman.

WowKeren - Kebebasan berbicara merupakan ciri sebuah negara menganut demokrasi. Salah satunya Indonesia. Kemudahan ini bisa kamu perhatikan bila berselancar di dunia maya. Khususnya media sosial.

Saking bebasnya, orang-orang bisa menyalurkan apa saja pendapatnya di medsos. Belum lagi ada yang tanpa penyaring dan mengungkapkan yang nggak sesuai dengan pandangannya. Bila semua ini kamu terima, bisa jadi kamu stres. Berikut hal-hal lain yang terjadi di dunia maya saat kebebasan berbicara dibiarkan tanpa pengaman:

Bertengkar di Kolom Komentar

Kamu mungkin nggak memperhatikan bahwa Internet adalah tempat yang sangat buruk. Jika nggak percaya, silakan masuk ke akun pribadi kamu lalu tuliskan pesan pro feminis atau anti Islam dan melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kelompok pembenci kamu.

Sadar bahwa hal ini buruk, beberapa media sosial besar seperti Instagram dan Facebook berniat memiliki penyaring pada kolom komentar. Sehingga apapun yang nggak sependapat nggak semudah itu dilontarkan.

Muncul Banyak Akun Nggak Dikenal

Sepertinya nggak sulit menemukan akun tanpa pengenal yang jelas. Maksudnya akun itu dimiliki oleh bot komputer yang sengaja menulis status atau komentar pedas pada orang lain. Bila penasaran dan ingin tahu seperti apa kepribadian pemilik akun, yang kamu temukan hanya gambar profil yang aneh.

Kondisi ini sangat aneh. Mengingat kebebasan berpendapat diperbolehkan namun semakin banyak orang yang nggak percaya diri dengan pemikirannya sendiri. Mengolok sana-sini dan menganggap yang dia anut benar dan lainnya salah namun nggak berani memperjuangkan pendapatnya. Sungguh ironi.

Kasus Menghujat Meningkat

Pekan lalu, Irlandia mengumumkan telah menjatuhkan kasus penghujatan terhadap aktor dan komedian Inggris Stephen Fry. Dia dituduh menghujat agama melalui komentarnya di acara televisi. Sayangnya contoh di Irlandia adalah salah satu dari sejumlah kasus penghujatan yang mengancam untuk menghancurkan kebebasan berbicara di seluruh dunia.

Sementara negara-negara Islam cenderung lebih buruk, memenjarakan atau bahkan mengeksekusi orang-orang yang menghina Nabi, negara-negara Barat juga mulai melakukan aksinya. Polandia menuntut seorang penyanyi pada tahun 2014 yang merobek sebuah Alkitab di atas panggung, sementara Yunani menjatuhkan hukuman 10 bulan pada seorang pria yang mengunggah foto seorang biarawan Ortodoks dengan editan di wajahnya. Kedua masalah tersebut dibatalkan saat mengajukan banding namun fakta bahwa mereka pernah diadili sangat mengerikan.

Perang Media


Belakangan bisa dikatakan media pemberitaan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Meski orang bisa mencari langsung, berita tetap menjadi salah satu tempat orang mencari tahu yang sedang terjadi.

Namun upaya menyetir pun kadang terlihat di media berita tertentu. Ada keterpihakan yang terlihat jelas. Bila diperhatikan, media berita A akan menulis yang baik tentang salah seorang politikus dan menulis buruk tentang oposisinya. Hal ini kerap terjadi.

Kurang Menghargai

Merasa paling benar adalah salah satu sifat yang terlihat jelas muncul pada era kebebasan berpendapat ini. Apalagi bila ada yang nggak sesuai dengan pandangan lalu merasa nggak dihargai, ada kelompok yang merasa nggak dihormati dan melapor ke polisi.

Padahal era kebebasan berpendapat ini seharusnya membuat orang lebih bisa menerima pandangan orang lain. Berbeda nggak masalah asal tidak secara langsung melontarkan ketidaksukaannya.

Kasus Pelecehan Seksual

Pada tahun 2015, profesor film feminis Laura Kipnis (foto atas) berurusan dengan kepolisian dan berisiko kekehilangan pekerjaan karena menulis esai tentang hubungan dosen dan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Alasannya karena bab 9 pada esai itu berisi tentang sebuah undang-undang yang diperkenalkan Presiden Nixon yang pada awalnya melindungi wanita dari diskriminasi di perguruan tinggi. Di bawah Obama, bahasan diperluas. Sekarang menangani kekerasan seksual khususnya terhadap siswa perempuan.

Paling tidak seharusnya. Tapi kata-kata itu sangat kabur sehingga bisa dibayangkan dibuat untuk mendefinisikan hampir semua hal sebagai "serangan" atau "pelecehan." Hasilnya? Sekumpulan profesor Amerika tidak dapat memulai diskusi intelektual tanpa bertanya-tanya apakah mereka akan dipecat dan dilabeli sebagai pelanggar seksual.

Gunakan Asas Solidaritas

Kepentingan jadi salah satu hal yang mendasari sebuah kelompok bergerak dan menjatuhkan yang lain. Hal ini bisa terlihat di media sosial. Penggunaan tagar yang kemudian dibahas banyak orang membuat sebuah hal menjadi viral.

Sayangnya kepentingan ini nggak terjadi secara jujur. Misalnya kepentingan politik dan permainan uang menjadi mesin yang menjalankan sebuah kelompok di Indonesia.

Meski terkesan bebas, banyak orang nggak menerima secara lapang dada bagaimana proses berpendapat. Menerima pendapat dan tidak berkoar bahwa hanya dirinyalah yang benar sebaiknya sebisa mungkin dihindari.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait