Biasanya Dibius Total Saat Operasi, 5 Orang Ini Malah Dibiarkan Main Gitar Ketika Otaknya Dibedah
SerbaSerbi

Berikut orang-orang yang ketika otaknya "diobok-obok" peralatan medis, masih bisa bermain alat musik dan bernyanyi.

WowKeren - Di dunia medis, bedah otak dengan pasien dalam keadaan sadar sebenarnya bukanlah hal yang langka. Nyatanya di sejumlah negara, prosedur ini sudah kerap dilakukan.

Yang terbaru dialami oleh seorang gitaris asal India. Dia mengalami gangguan saraf yang membuat jari-jarinya tak lagi bisa dipakai untuk memetik gitar. Menariknya saat operasi, dia dibiarkan bermain gitar.

Sebelum pria ini, siapa saja yang sudah pernah merasakan dibedah dalam keadaan sadar ya? Berikut orang-orang yang ketika otaknya "diobok-obok" peralatan medis, masih bisa bermain alat musik:

Rolden Batista

Ditemukan tumor dalam otaknya, pria bernama Rolden ini diminta memilih antara operasi dalam keadaan sadar ataupun tidak. Namun karena mendengar bahwa operasi dalam keadaan sadar memiliki tingkat keberhasilan yang lebih besar maka dia pun lebih memilih dioperasi dalam keadaan sadar.

Bahkan saat operasi Maret lalu, pria berusia 40 tahun itu diminta memainkan gitar dan bernyanyi. Ahli bedah menjelaskan, membiarkan pasien asal Brazil itu tetap sadar dan bernyanyi merupakan cara tercepat untuk mengetahui apakah mereka telah membuat kesalahan selama prosedur atau tidak.

Jika pasien diketahui tidak bisa melafalkan lagu maka saat itu juga dokter akan "'memperbaiki" bagian otak yang mengontrol gerakan, ucapan dan indra sebelum terlambat.

Li

Seorang pria asal Tiongkok bernama Li terpaksa berhenti menjadi gitaris karena jari-jarinya tak bisa digerakkan. Namun selama 20 tahun dia tak tahu sebabnya dan sudah berobat kemana-mana tanpa hasil.

Hingga akhirnya Li bertemu dengan seorang dokter yang mendiagnosisnya dengan focal hand disorder (FHD). FHD mengakibatkan hilangnya kendali seseorang terhadap otot-otot tertentu di tubuhnya, dan kondisi ini lazim ditemukan pada musisi.

Dokter tersebut akhirnya menawarinya dengan prosedur bedah yang disebut "deep brain stimulation" di mana bagian otak yang mengalami kelumpuhan dan membuat Li tak bisa bermain gitar lagi diberi stimulasi listrik agar "hidup" kembali.

Untuk memastikan tim dokter menangani bagian otak yang tepat maka Li dibuat sadar sepanjang operasi dan memintanya bermain gitar. Prosedur dilakukan pada Januari 2016 silam, saat usia Li menginjak 57 tahun.

Carlos Aguilera


Sering mengeluh pening, belakangan ketahuan jika Carlos memiliki tumor di otaknya. Namun untuk memupuskan kekhawatiran Carlos bahwa operasi akan menyebabkan kerusakan pada otaknya, tim dokter membedah dan mengangkat tumor di otak Carlos dengan prosedur yang tak biasa.

Operasi dilakukan pada bulan Desember 2015 silam. Selama operasi, pria asal Spanyol itu tidak dibius sekaligus diminta memainkan saksofon untuk mengetahui respons otaknya.

Tumor Carlos akhirnya berhasil terangkat setelah 12 jam menjalani operasi. Da dinyatakan pulih sepenuhnya hanya dalam waktu dua bulan.

Reuben Hill

Di tahun 2015 lalu, Reuben tiba-tiba tak sadarkan diri di kamarnya. Setelah diperiksa, Reuben didiagnosis dengan epilepsi yang dipicu oleh tumor di otaknya.

Oleh tim dokter, Reuben ditawari untuk menjalani operasi di mana dia dibuat sadar dan diminta berbicara serta bernyanyi. Kebetulan Reuben juga anggota paduan suara di kampusnya di London.

Selain karena prosedur tersebut, tim dokter dikabarkan menggunakan terobosan baru untuk menangani kasus Reuben yaitu menggunakan laser khusus yang dapat membedakan antara jaringan otak sehat dengan tumor. Pria yang saat dioperasi berumur 22 tahun itu diklaim sebagai orang Inggris pertama yang beruntung bisa merasakannya.

Ambroz Bajec Lapajne

Ambroz didiagnosis dengan salah satu jenis tumor otak yang paling agresif bernama Glioblastoma multiforme (GMB). Jika tidak segera diangkat, 90 persen pasien tumor otak ini akan meninggal dalam kurun tiga tahun pasca diagnosis.

Namun karena tak ingin kehilangan kemampuannya bernyanyi tenor, Ambroz diminta dokter untuk tetap melantunkan suaranya saat otaknya tengah dibedah.

Selain diminta bernyanyi, tim dokter juga mengoperasi otak Ambroz tanpa memberinya obat bius. Dengan membuat Ambroz tetap terjaga, mereka dapat terus memantau kemampuan otak pasien untuk memvokalisasi perubahan nada saat ia bernyanyi.

Itulah orang-orang yang berhasil hidup berkat tangan hebat dokter-dokter yang menangani tumor dan permasalahan yang muncul di otak mereka.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait