Pada studi yang dilakukan, peneliti menganalisis lebih dari 3.200 orang dewasa di Perancis dan diamati selama 20 tahun.
- Nur Islamiyah
- Rabu, 29 Agustus 2018 - 16:36 WIB
WowKeren - Baru-baru ini terdapat penelitian yang menentukan hasil cukup mengejutkan. Penelitian dari Perancis yang dipresentasikan di mengatakan bahwa orang-orang dengan banyak kerutan dahi yang dalam lebih mungkin untuk meninggal karena penyakit jantung dari pada mereka yang tidak. Selain itu, mereka yang memilikinya secara tidak langsung meningkatkan resiko stroke dan serang jantung.
Yolande Esquirol, salah satu penulis dan profesor di Centre Hospitalier Universitaire de Toulouse, Perancis menjelaskan bahwa dokter bisa memberikan saran untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskular hanya dengan melihat wajah pasien.
"Hanya dengan melihat wajah, tanda peringatan bisa muncul," ujar Yolande. "Kerutan yang dalam bukanlah hasil kerja keras atau gaya hidup yang penuh tekanan. Sebaliknya, hal itu mungkin disebabkan oleh perubahan yang menyebabkan pembuluh darah menjadi tersumbat."
Dikutip dari Live Science, Yolande mengatakan, "Kalian tidak dapat melihat atau pun merasakan faktor resiko (penyakit jantung) seperti kolestrol atau pun hipertensi." Jadi, kerutan di kening dapat membantu mereka memberikan nasihat untuk mengurangi resiko penyakit jantung.
Pada studi yang dilakukan, peneliti menganalisis lebih dari 3.200 orang dewasa di Perancis yang berusia 32, 42, 52 hingga 62 tahun. Para peserta menjalani pemeriksaan pada kerutan di kening mereka. Lalu peneliti memberikan penelitian dari 0 yang berarti tidak ada kerutan dan 3 yang berarti banyak kerutan.
Para peserta telah diamati selama 20 tahun, di mana 233 peserta meninggal karena berbagai penyebab. Peserta yang memiliki skor kerut 1 memiliki resiko lima kali lebih besar meninggal karena penyakit jantung. Sementara skor kerutan 2 atau 3 hampir 10 kali beresiko mungkin meninggal karena penyakit jantung dibandingkan dengan yang mendapat skor 0.
Resiko mengidap jantung dapat bertambah seiring bertambahnya usia. Wakil Ketus Royal College of GPs Profesor Kamila Hawthorne menyebutkan hasil penelitian ini menarik karena dapat membantu mengidentifikasi atau memberikan pengobatan penyakit jantung yang lebih baik. Profesor Jeremy Pearson juga mengatakan bahwa hasil penelitian tersebut tidak perlu diragukan lagi.
(wk/nris)