Belum Bertemu Keluarga Amir Hamzah, Lukman Sardi Riset Demi 'Nyanyi Sunyi Revolusi'
WowKeren/Fernando
Selebriti

Menjadi aktor utama di pertunjukan, Lukman Sardi sempat menemui beberapa kesulitan.

WowKeren - Lukman Sardi menjadi salah satu pemeran utama di pertunjukan "Nyanyi Sunyi Revolusi" yang diadaptasi dari kisah perjalanan penyair Amir Hamzah. Sebagai pemeran Amir Hamzah, Lukman Sardi mengaku melakukan riset mengenai buku-buku biografi karena belum sempat bertemu dengan keluarga Amir Hamzah.

"Kalau keluarganya gue belum sempat ketemu. Aku baca dari riset, buku-buku yang menulis tentang dia, dari tulisannya aja gue banyak dapat sentilan, dimana kita hanya tahu kalau Amir Hamzah oke Penulis yang bagus dengan karyanya, tapi ternyata perjalanan hidupnya begitu sulit dan kompleks," kata Lukman Sardi saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu, 12 Januari. "Nah dari situ aku belajar banyak hal baru, terlebih soal cinta dan rasa, dan memaafkan, bagaimana hal itu bisa membuat segala sesuatu menjadi jauh-jauh lebih baik lagi."


Menurut Lukman Sardi, sosok Amir Hamzah mengajarinya pesan-pesan positif. "Gimana Amir Hamzah mengajarkan untuk saling memaafkan, nah itu kan yang jadi sangat menarik di tengah situasi yang seperti itu, sampai dia meninggal kan sangat ironis bahwa dia meninggal di tangan orang-orang yang dia cintai dan perjuangkan, tapi dia enggak pernah yang menuntut bahwa dirinya benar," kata Lukman Sardi. "Dia bukan orang yang suka kekerasan, dia selalu mengajarkan ke anak-anaknya untuk tak dendam."

Terakhir, Lukman Sardi juga mengutarakan kesulitan-kesulitan selama mendalami karakter Amir Hamzah di pertunjukan. "Kesulitan pasti ada, namanya tiap proses pasti ada itu, seperti tadi bahwa bagaimana naskah ini ditampilkan dengan begitu sunyi tapi disampaikan melalui suara dari panggung yang bisa keluar tanpa menghilangkan sense of art itu sendiri, kan sulit, kadang-kadang kita juga dipanggung itu terjebak dengan tuntutan suara yang keras tapi juga harus dibalut dengan emosional yang kuat, nah ini salah satu kesulitan tersendiri," pungkas Lukman Sardi.

"Tapi justru pemahaman dari karakternya itu sendiri dari cara ceritanya itu sendiri yang di implus terus sama mas Iswandi Pratama. Akhirnya kita harus tahu ceritanya dan segala macam, tahu karakternya, sehingga menimbulkan reaksi yang jujur dari dalam terhadap karakter itu sendiri bukan berdasarkan dibuat-buat."

You can share this post!

Related Posts