Rupanya Ini Alasan Orang Lanjut Usia Lebih Sering Bagikan Berita Hoaks di Facebook
SerbaSerbi

Terdapat dua penyebab yang ditemukan oleh para peneliti terkait hoaks yang disebarkan oleh orang berusia lanjut.

WowKeren - Saat menjelang pergantian pemimpin negara alias Pemilihan Umum Presiden, banyak berita hoaks yang beredar. Hal tersebut tak bisa dihindarkan lantaran merupakan cara bagi pendukung masing-masing pasangan calon (paslon) presiden dan calon wakil presiden untuk saling menjatuhkan.

Berita hoaks biasanya menyebar di media sosial dan kerap memancing perdebatan. Umumnya, para orang yang berusia lanjut yang lebih sering membagikan berita hoaks tersebut. Wah, kenapa, ya?


Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Universitas New York dan Priceton mendapatkan hasil bahwa generasi usia lebih lanjut yang paling sering menyebarkan berita hoaks. Dilansir dari The Guardian, dalam penelitiannya, mereka menganalisa riwayat unggahan milik 1.750 pengguna Facebook berusia dewasa.

Peneliti menemukan bahwa orang-orang lanjut usia lebih banyak menggunggah informasi yang berasal dari penerbit fake news alias berita palsu. Sebagian besar orang tidak berbagi artikel dari domain berita palsu pada 2016. Sementara, 8,5 % membagikan setidaknya satu tautan ke domain berita yang tak terbukti kebenarannya. Sebut saja denverguardian, thepundit, atau donaldtrumpnews.co yang memuat berita tidak sepenuhnya benar.

Tiga laman tersebut dan 18 lainnya masuk dalam daftar laman yang menyajikan berita tidak akurat. Peneliti menyebut tautan seperti itu sebagai fake news atau berita palsu.

Sementara itu, situs partisipan seperti Breibart yang pro sayap kanan, tidak masuk dalam kategori penyebar berita palsu. Mereka yang membagikan konten-konten umum jarang menyebar konten berita palsu.

Menurut informasi tersebut, orang-orang yang membagikan banyak tautan lebih memahami media dan mampu membedakan berita yang benar ketimbang berita palsu yang beredar di internet. Temuan tersebut didukung oleh data demografi yang menyebutkan bahwa orang-orang dengan usia lebih dari 65 tahun yang telat mengenal internet dua kali lipat lebih sering berbagi artikel palsu ketimbang mereka yang lebih muda.

Penyebabnya adalah mereka yang berusia lanjut tidak punya tingkat literasi media digital seperti pengguna yang berusia lebih muda. "Ketika generasi terbesar di Amerika memasuki masa pensiun saat ada perubahan demografis dan teknologi, ada kemungkinan seluruh kelompok orang Amerika yang sekarang berusia 60 tahun ke atas tak memiliki tingkat literasi media digital yang diperlukan, guna menentukan kepercayaan atas berita yang beredar di internet," tulis peneliti dalam laporannya.

Selain itu, kemungkinan kedua yang membuat orang lanjut usia lebih banyak menyebarkan berita palsu adalah adanya dampak dari penuaan memori. "Ingatan yang memburuk seiring bertambahnya usia dengan cara yang secara khusus merusak resistensi terhadap ilusi kebenaran," lanjutnya.

Hasil penelitian menunjukkan pengguna Facebook Amerika dengan usia di atas 65 tahun, membagikan lebih tujuh artikel yang tak terbukti kebenarannya dibandingkan mereka yang berusia 18 hingga 29 tahun. Hal ini juga marak terjadi di Indonesia. Tidak hanya berbagi tautan di Facebook, namun juga di berbagai media sosial seperti grup Whatsapp dan Twitter.

Kasus yang baru-baru ini membuat masyarakat resah adalah hoaks yang menyebutkan bahwa terdapat tujuh kontainer surat suara telah dicoblos. Nama Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief, pun ikut terseret dalam kasus ini. Pasalnya, ia turut mencuitkan kabar dugaan adanya surat suara yang sudah tercoblos ini melalui Twitter pribadinya.

Maka, sebagai pembaca dan warga negara, sebaiknya kita meneliti terlebih dahulu kebenaran berita yang beredar. Jangan sampai terpengaruh dan terpancing untuk menyebarkan berita hoaks tersebut.

You can share this post!

Related Posts
Loading...