Tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menemukan serpihan yang diduga tengkorak manusia di situs petirtaan suci Majapahit. Namun, hal itu masih perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui itu tengkorak manusia atau bukan.
- Nidya Putri
- Senin, 07 Oktober 2019 - 15:27 WIB
WowKeren - Situs petirtaan suci Majapahit di Jombang rusak akibat diterjang banjir lahar dingin di masa lalu. Bencana alam ini disinyalir mengakibatkan keluarga kerajaan tewas tertimbun di dalam kolam.
Karena itu situs purbakala di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang ini terus digali untuk mengungkap seluruh bagiannya. Jika pada ekskavasi pertama tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim berhasil menampakkan hampir seluruh bagian petirtaan suci peninggalan Majapahit yang berbentuk persegi panjang dengan luas 20x17 meter persegi.
Maka pada ekskavasi tahap kedua yang dilakukan tanggal 1-10 Oktober 2019, berhasil menemukan beberapa fakta baru. Salah satunya berupa reruntuhan menara di dalam petirtaan.
Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, reruntuhan menara pertama ditemukan di sudut timur laut petirtaan. Sedangkan reruntuhan ini ditemukan pada kedalaman sekitar 1 meter dari permukaan kolam.
Pada bongkahan struktur menara itu dihiasi dengan relief Kala, yaitu makhluk dalam mitologi Hindu sebagai pengusir roh jahat. Tinggi menara ini diperkirakan mencapai 5 meter.
"Kemungkinan ini menara bagian tengah petirtaan yang runtuh ke arah timur laut," kata Wicaksono dilansir Detikcom, Senin (7/10). "Menara ini menggambarkan monumen gunung meru yang digunakan mengaduk samudera untuk mencari amerta atau air suci."
Tak sampai di situ, reruntuhan menara juga ditemukan di sudut barat daya petirtaan. Karena ukurannya lebih kecil, dia menduga menara ini dulunya dibuat mengelilingi petirtaan. Struktur menara ini runtuh menimpa jaladwara atau pancuran air di dalam kolam. Reruntuhan menara lainnya diperkirakan masih terpendam di dalam kolam, atau sudah hancur.
Namun ada yang temuan yang mengejutkan, yaitu ditemukan serpihan yang diduga tempurung tengkorak manusia di bawah reruntuhan menara tersebut. Serpihan tersebut mirip dengan tengkorak.
Serpihan mirip tengkorak itu ditemukan di 4 titik berbeda pada kedalaman 1 meter di dalam kolam. Ketebalan serpihan sekitar 3 milimeter. Ada yang berwarna putih tulang, ada juga yang menghitam.
"Ahli antropologi forensik dari Unair Surabaya telah mengambil sampel serpihan yang diduga tengkorak manusia itu untuk diteliti di laboratorium," terangnya. "Kemungkinannya dua, tempurung kepala manusia atau tempurung kelapa."
Jika hasil uji laboratorium ahli antropologi forensik Unair memastikan serpihan yang ditemukan adalah tengkorak manusia, maka banjir lahar dingin menerjang saat sedang berlangsung ritual penyucian diri di petirtaan Sumberbeji. Menurutnya, setidaknya terdapat 4 manusia yang terkubur di dalam kolam.
Teori ini diperkuat dengan penemuan kendi dan celupak lengkap dengan getah pohon damar di dekat serpihan yang diduga tengkorak manusia. Celupak berfungsi sebagai penerangan pada masa Majapahit. Kendi dan celupak ini biasa dipakai ritual penyucian diri pada malam hari.
"Kemungkinan saat bencana lahar dingin datang, ada pengguna terpendam sehingga terkubur di dalam petirtaan. Mungkin yang terkubur keluarga kerajaan jika benar serpihan itu tengkorak manusia. Karena petirtaan ini hanya digunakan oleh keluarga raja," tutupnya.
(wk/nidy)