Sutradara 'Joker' Akhirnya Jelaskan Adegan Ending Film, Kenyataan atau Cuma Khayalan Arthur Fleck?
Warner Bros. Pictures
Film

Dengan premis gangguan jiwa yang dialami oleh sang tokoh utama, Arthur Fleck, maka wajar sekali apabila para penonton masih cukup kesulitan mencerna alur cerita 'Joker' secara utuh.

WowKeren - Meski dikemas dengan alur yang sangat rapi, namun tak bisa dipungkiri bahwa "Joker" juga meninggalkan rasa penasaran di benak penonton lantaran akhir cerita yang dibuat menggantung. Pasalnya ada beberapa bagian dalam film arahan Todd Phillips ini yang masih perlu dibahas lantaran membuat penonton penasaran sekaligus kebingungan.

Apalagi menilik premis gangguan kesehatan mental yang dialami oleh sang tokoh utama, Arthur Fleck (Joaquin Phoenix). Sehingga wajar sekali apabila para penonton masih cukup kesulitan mencerna alur ceritanya secara utuh.


Spoiler Alert!

Dalam film "Joker", Arthur Fleck kadang mengalami halusinasi setelah ia berhenti minum obat. Termasuk membayangkan kalau Sophie Dumond (Zazie Beetz) simpati kepadanya dan sempat menjadi kekasihnya. Akibatnya, wajar sekali apabila penonton digiring untuk merasa kesulitan membedakan mana kejadian nyata, serta mana yang menjadi bagian dari delusi Arthur.

Salah satu adegan yang paling membuat penonton kebingungan tentunya adalah ending scene, di mana Arthur tampak berhadapan dengan seorang psikiater di rumah sakit jiwa Arkham Asylum. Adegan ini menjadi akhir dari serangkaian kejahatan yang telah dilakukannya sepanjang film, mulai dari membunuh ibunya, menimbulkan kerusuhan di Gotham City, hingga membunuh Murray Franklin (Robert De Niro) secara live di acara televisi.

Ketika psikiater mencoba menanyainya, Arthur hanya tertawa. Ia mengatakan bahwa sang psikiater tak akan mengerti leluconnya. Terkait adegan yang membingungkan ini, akhirnya sutradara Todd Phillips pun buka suara.

Menurut Phillips, tawa inilah yang mungkin menyimpan petunjuk tentang sifat sebenarnya dari cerita "Joker". "Tawa dalam adegan itu adalah satu-satunya saat dia tertawa dengan tulus," tutur sang sutradara pada Los Angeles Times.

"Ada tawa yang berbeda dalam film. Ada tawa dari kesengsaraan Arthur dan kemudian ada tawa palsu yang merupakan tawa favoritku. Tetapi pada akhirnya, ketika dia berada di rumah sakit Arkham, itu satu-satunya tawa tulusnya dalam film," lanjutnya.

Todd Phillips lantas mengklaim bahwa film ini sebenarnya merujuk pada "The Killing Joke", novel grafis tahun 1988 di mana Joker mengatakan bahwa jika dia harus memiliki masa lalu, dia lebih suka jika hal tersebut menjadi pilihan ganda. Sang sutradara lantas menjelaskan bahwa ia menggarap "Joker" dengan konsep tersebut, sehingga para penonton bisa bebas berspekulasi.

"Ada banyak cara kalian menonton film ini," lanjut Phillips. "Kalian bisa menontonnya dan berpikir, 'Ini hanya salah satu dari kisah pilihan gandanya. Tidak ada yang terjadi.'"

"Aku tidak ingin mengatakan apa itu. Tapi banyak orang yang mengatakan, 'Oh, aku mengerti, dia (Arthur) hanya mengarang cerita. Seluruh film adalah lelucon. Orang di Arkham Asylum (Arthur) hanya mengarang. Dia bahkan mungkin bukan Joker'," imbuhnya lagi, merujuk pada teori-teori penggemar yang sudah menyaksikan "Joker". "Kalian tidak benar-benar tahu. Dialog terakhirnya di film adalah, 'You wouldn't get it (Kau tidak akan mendapatkannya)' Ada banyak hal yang menarik di sana."

Bagaimana menurutmu?

You can share this post!

Related Posts
Loading...