Sebuah video perayaan natal dengan menyerukan salawat tiba-tiba menjadi sorotan di dunia maya. Viralnya video tersebut, membuat pihak penyelenggara acara memberikan klarifikasinya.
- Nidya Putri
- Senin, 16 Desember 2019 - 18:51 WIB
WowKeren - Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan sebuah video yang intinya mengklaim bahwa ada dua kelompok masyarakat beda agama yang sedang menyambut atau merayakan Natal. Dalam video berdurasi 1 menit 18 detik tersebut memperlihatkan seorang pria melantunkan salawat.
Video tersebut lantas menjadi viral setelah diunggah ulang di Facebook dengan nama akun Nelly Siringo Ringo. Dalam postingan tersebut, Nelly memberikan narasi sebagai berikut:
"Aduuuh gw yang Kristen aja risih yang kek beginian...Maksa banget sih, pake di blender begitu, emangnya campur sari...?," tulisnya. "Cukup saling menghormati, menyayangi satu dengan yang lain tanpa harus di mixed begitu SUDAH LEBIH DARI CUKUP."
Dalam video yang diunggah di Facebook tersebut juga terdapat narasa yang bertuliskan "Hancuur Hancuuur... Natalan pakai Shalawat". Dikutip dari Okezone, salah satu Relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menjelaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah acara Natal melainkan Festival Keragaman Sulawesi Utara 2016 yang digelar pada 10 Desember 2016 di aula Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara.
"Acara ini ditujukan untuk memperingati hari Hak Asasi Manusia," kata Adi dalam ulasan periksa faktanya, Senin (16/12). Sementara itu, Ketua Panitia Festival Keragaman Sulut, Sofyan Yosadi mengatakan jika kegiatan ini juga memperingati hari Hak Asasi Manusia serta untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan cinta akan toleransi.
Sofyan kala itu mengatakan, pihaknya akan berikan pesan banyak hal pada Indonesia dan dunia. Bahwa, tidak butuh kebencian, permusuhan dan penutupan tempat ibadah, karena semua beragama.
Dalam kegiatan ini, bergantian para tokoh lintas agama mendoakan Indonesia lewat keyakinannya masing-masing. Selain Muchsin Bilfaqih mewakili umat Muslim ada Pdt Dr Richard Siwu dari Protestan, Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan MSC dari Katolik, Drs IWB Wedha Manuaba dari Hindu, Jimmy Sofyan Yosadi dari Khonghucu serta Bhikkuni Meici Bibiana Runtuwene dari Buddha.
Sehingga demikian, kata Adi, konten yang dibagikan akun Nelly itu adalah konten yang salah. "Dimana ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah," tegasnya.
(wk/nidy)