Viral Siswi SMP di Solo Dikeluarkan Pasca Ucapkan Selamat Ultah
SerbaSerbi

Seorang siswi di Solo, Jawa Tengah, dengan inisial AN dikeluarkan dari sekolahnya lantaran kedapatan mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman lawan jenisnya.

WowKeren - Beragam peristiwa unik kerap terjadi di Indonesia. Salah satunya dialami oleh seorang siswi SMP di Solo, Jawa Tengah, yang harus mengalami pahitnya dikeluarkan dari sekolah. Mungkin peristiwa dikeluarkannya murid dari sekolah bukan hal yang aneh, kecuali bila alasannya "cuma" karena mengucapkan selamat ulang tahun.

Hal itulah yang dialami oleh siswi berinisial AN tersebut. SMP IT Nur Hidayah Solo yang menjadi tempatnya menuntut ilmu memutuskan mengeluarkan AN dari sekolah karena mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman lawan jenisnya di sekolah yang sama.


Kasus ini pun langsung menjadi viral hingga membuat Kepala SMP IT Nur Hidayah, Zuhdi Yusroni, memberikan klarifikasinya. Zuhdi meminta publik tak membesar-besarkan masalah yang ada karena langkah pengeluaran AN dari sekolah diambil sesuai prosedur. Sebelum dikeluarkan pun, Zuhdi mengaku sudah melakukan pendampingan kepada siswi kelas VIII itu.

"Siswi tersebut sudah berulang kali melakukan pelanggaran. Selama masa hukuman, dia kembali melakukan pelanggaran," kata Zuhdi, Sabtu (11/1). "Memang yang paling sering dilanggar itu hubungan (komunikasi) dengan lawan jenis."

"Karena sejak akan bersekolah di sini, calon siswa sudah kami tegaskan tidak boleh berinteraksi berlebihan dengan lawan jenis," imbuh Zuhdi, dikutip dari Detik News. "Itu termasuk pelanggaran berat, tapi ternyata itu tetap dilakukan."

Pelanggaran yang terus dilakukan membuat poin kedisiplinan AN pun semakin banyak. Sehingga ketika diakumulasi, AN harus menerima sanksi dikeluarkan dari sekolah. Hal itu pula yang membuat siswa "teman" AN tak ikut dikeluarkan dari sekolah.

Menanggapi kejadian itu, KPAI pun ikut angkat bicara. Komisioner KPAI, Retno Listyarti, menyayangkan sekolah yang mengambil langkah ekstrem seperti itu. "KPAI menilai sekolah terlalu berlebihan menetapkan aturan sekolah dan menerapkan sanksi," jelas Retno.

Retno menilai sekolah kurang memahami psikologi anak seusia AN yang memang cenderung mulai tertarik kepada lawan jenis. Alih-alih membatasi komunikasi dengan lawan jenis seperti yang diterapkan sekolah, KPAI lebih mendorong agar sekolah memberikan pendidikan kesehatan reproduksi.

You can share this post!

Related Posts