Peneliti kembali menemukan fakta mengerikan soal kemampuan virus Corona dalam menginfeksi tubuh penderitanya. Kali ini menyoroti soal virus yang bisa merusak sistem peredaran darah.
- Elvariza Opita
- Rabu, 22 April 2020 - 10:44 WIB
WowKeren - Berbagai hal tentang virus Corona terus diteliti oleh otoritas terkait, berharap upaya ini dapat menjadi solusi untuk mengatasi pandemi yang telah menginfeksi 2 juta orang di seluruh dunia ini. Salah satu hal yang diteliti adalah perihal aktivitas biologis virus tersebut ketika di dalam tubuh penderita.
Dan baru-baru ini peneliti di Swedia menemukan satu fakta mengejutkan sekaligus mengerikan tentang SARS-CoV-2. Sebab virus penyebab COVID-19 itu ternyata tak hanya "membunuh" penderitanya lewat infeksi saluran pernapasan, tetapi juga menyerang sistem peredaran darah yang dapat berujung pada kegagalan organ.
"Virus ini tak hanya menyerang paru-paru," kata Frank Ruschitzka, peneliti dari Rumah Sakit Universitas Zurich. "Itu menyerang seluruh pembuluh darah."
"Virus ini bisa memasuki lapisan dalam pembuluh darah, yang juga merupakan pertahanan terakhir (seharusnya tak bisa diserang oleh mikroba asing penyebab penyakit)," imbuhnya menjelaskan, dilansir dari South China Morning Post, Rabu (22/4). "Alhasil pertahanan tubuhmu menurun dan menyebabkan masalah di mikrosirkulasi."
Dengan sifat seperti itu, dapat disimpulkan bahwa virus Corona bisa menyebabkan berbagai macam penyakit yang jauh lebih buruk ketimbang pneumonia. Peredaran darah ke bagian-bagian tubuh suatu saat bisa berhenti, yang tentu akan berakibat fatal mengingat darah yang menyalurkan nutrisi sekaligus oksigen bagi sel-sel.
Hal ini sekaligus menerangkan mengapa pasien positif COVID-19 dengan penyakit komorbit atau bawaan bisa mengalami gejala sangat fatal ketika terinfeksi SARS-CoV-2. Seperti misalnya pasien-pasien dengan hipertensi, diabetes, obesitas, atau penyakit kardiovaskuler lain.
Hasil autopsi pasien meninggal COVID-19 pun membuktikan penelitian Ruschitzka dan timnya ini. Seperti misalnya ketika ginjal pasien meninggal COVID-19 berusia 71 tahun dipotong melintang, terlihat pembuluh-pembuluh darahnya tak lagi terlihat normal. Abnormalitas ini juga ditemukan dalam kondisi penuh sumbatan-sumbatan darah.
Kondisi ini membuat peneliti mengarahkan penelitian mereka ke bidang kesehatan pembuluh darah. Sebab selain mencegah replikasi virus, vaksin atau obat-obatan COVID-19 sebaiknya juga memperbaiki kualitas pembuluh darah.
"Semua pasien berisiko dan lansia harus dirawat dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan pembuluh darahnya," terangnya. "Semakin baik perawatan (di bidang pembuluh darah) diberikan, semakin besar juga peluang ia sembuh dari COVID-19."
Sebelumnya beberapa penelitian juga menunjukkan adanya "anomali" dimana virus Corona ternyata tak hanya menyerang sistem pernapasan penderitanya. Seperti misalnya virus Corona yang ternyata bisa hidup dan "bersembunyi" di saluran pencernaan, virus Corona yang menyebabkan penyumbatan darah serta reaksi peradangan yang tidak terkendali, hingga menyerang sistem daya tahan tubuh dan membuat sel darah putih berbalik menyerang diri sendiri.
(wk/elva)