Gelombang Kedua Wabah Corona di Depan Mata, Pakar Minta Masyarakat Persiapkan Hal Ini
Health

WHO dan ahli medis terus mengingatkan soal potensi terjadinya gelombang kedua wabah virus Corona, mengingat sampai sekarang belum ada vaksin penangkal untuk penyakit pernapasan ini.

WowKeren - Para pakar kesehatan kerap mengingatkan agar masyarakat tidak lalai kendati perkembangan wabah COVID-19 di beberapa negara sudah terkendali. Pasalnya sampai sekarang belum ada vaksin penangkal untuk penyakit tersebut, begitu pula kepastian bahwa penyintas COVID-19 tak lagi bisa terinfeksi virus.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga gamblang membuka opsi terjadinya gelombang kedua wabah virus Corona. Secara spesifik, ahli medis terkemuka di Amerika Serikat, Dr Anthony Fauci menyebut negaranya bisa saja menghadapi gelombang kedua wabah pada musim gugur mendatang.

"Besar kemungkinan (wabahnya) kembali, karena virusnya sangat mudah menular dan sudah menyebar secara global," kata Fauci awal pekan ini, dilansir dari CNN, Minggu (3/5). Bahkan Kepala Institut Alergi dan Penyakit Menular AS itu menilai bisa saja terjadi musim dingin yang mengerikan apabila tidak ada persiapan matang menyongsong gelombang kedua wabah ini.

Pakar-pakar kesehatan pun meminta masyarakat untuk bersiap-siap dengan peluang terburuk yang bisa terjadi. Saat ini masyarakat harus mulai memikirkan bagaimana bila menghadapi gelombang kedua wabah COVID-19.


Seperti misalnya rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain yang harus menyetok kembali alat pelindung diri (APD) maupun sarana-prasarana kesehatan lain. Alat dan reagen untuk mendeteksi virus pun harus disiapkan.

Sedangkan untuk masyarakat awam, masih dikutip dari CNN, diminta untuk lebih memerhatikan kesehatan dirinya. Apabila memang kondisi perkembangan penyakit di negaranya sudah terkendali, jauh lebih baik bila masyarakat tetap aktif mengenakan masker dan menghindari perkumpulan dengan banyak orang.

Kepala Bagian Penelitian Vaksin Mayo Clinic AS, Dr. Greg Polland meminta pemerintah daerah untuk mematangkan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat. "Kalau social distancing harus kembali dilakukan, harapannya tidak ada kendala teknis yang terjadi," ujar Polland.

Namun yang terpenting, Pakar Penyakit Menular dari Universitas Tufts, Dr. Helen Boucher meminta agar paramedis fokus dalam mengembangkan metode deteksi COVID-19 serta perawatannya. "Kami berharap ke depannya persiapan bisa lebih matang. Mungkin saat (gelombang kedua wabah) itu terjadi, kita sudah punya cara menangani pasien COVID-19 dengan lebih baik," pungkas Boucher.

Sebelumnya epidemiolog Indonesia, Dicky Budiman, menyebut gelombang kedua terjadi bila mendadak ada lonjakan pasien positif COVID-19 pasca ada tren menurun. "Gelombang kedua biasanya menyerang hingga 90 persen penduduk yang belum terpapar," terang Dicky.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait