Gadis 10 Tahun Asal Sragen Mengajar di Sekolahnya Sendiri, Begini Pendapat Guru
SerbaSerbi

Gadis yang akrab disapa Celyn itu telah memenangkan lomba menggambar dan mewarnai sebanyak lebih dari 700 kali. Oleh sebab itu, Celyn dipercaya sebagai guru seni di SD-nya.

WowKeren - Kisah gadis berusia 10 tahun bernama Elvaretta Cicelyana Yocelyn asal Sragen, Jawa Tengah, yang telah dipercaya mengajar di sekolahnya sendiri tentu membuat publik heran. Akan tetapi, kemampuan Celyn dalam menggambar dan mewarnai tak perlu diragukan lagi. Di usianya yang baru mencapai 1 dekade tersebut, Celyn rupanya telah meraih lebih dari 700 piala.

Oleh sebab itu, Celyn dipercaya menjadi guru mata pelajaran seni, budaya, dan keterampilan di SDN 5 Plumbungan, Karangmalang, Sragen, tempat Celyn bersekolah. Celyn rupanya mulai mengikuti lomba menggambar dan mewarnai sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

Berbagai hadiah telah didapatkan Celyn dari lomba-lomba tersebut, mulai dari hadiah berupa barang maupun uang tunai. Hadiah berupa barang kerap dibagikan Celyn kepada teman-teman sekolah karena saking banyaknya. Sedangkan uang hadiah lomba dikumpulkan Celyn untuk membeli mobil.

"Sekarang sudah terkumpul Rp80 juta," ujar Celyn dilansir dari Solopos. "Uang itu mau dipakai buat beli mobil. Saya ingin punya mobil Avanza."


Sebagai guru cilik, Celyn mengajar tiga kelas yang berbeda setiap minggunya. Ia menjadi guru cilik sejak kelas 2 SD. Bahkan kala itu, Celyn sudah mengajar kelas 3 yang notabene adalah kakak-kakak kelasnya.

Salah satu keberhasilan Celyn dalam mengajar dibuktikan saat ia dan dua "murid"-nya mengikuti sebuah lomba. Celyn berhasil meraih juara satu, sedangkan juara dua dan tiga diraih kedua "murid"-nya. Setiap weekend, Celyn ternyata masih rutin mengikuti lomba menggambar dan mewarnai.

Joko Sunoto, 36 tahun, mengaku tak menyangka apabila sang putri memiliki bakat terpendam yang luar biasa. Joko pun setia mendampingi Celyn berlomba di berbagai daerah. Beberapa cerita menarik saat Celyn menjadi guru cilik maupun ketika berlomba diceritakan Joko dengan bangga.

"Saat mengajar di sekolah itu, ada siswa yang keberatan karena contoh gambar yang diberikan Celyn terlalu rumit dan detail," ungkap Joko. "Saya terkesan saat ikut lomba tingkat nasional pada April 2019 lalu di Semarang. Waktunya hanya satu jam. Orang tua diberi jarak cukup jauh untuk melihat anaknya yang ikut lomba. Ya, deg-degan juga dan akhirnya selesai. Celyn pun dapat juara 1."

Di sisi lain, Rhea Yustitie yang merupakan guru SMAN 1 Boyolali, Jawa Tengah, berpendapat bahwa status Celyn adalah tutor sebaya. Hal itu sebab guru sekolah harus memenuhi syarat berpendidikan Diploma IV atau Strata 1. "Praktiknya pembelajaran berkelompok dan guru (asli pengampu mapel) tetap ada," kata Rhea kepada Vice.

(wk/nere)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!