Peneliti dari Wuhan, Tiongkok menemukan hanya sedikit pasien sembuh COVID-19 yang benar-benar berhasil mengembangkan antibodi terhadap virus Corona. Begini penjelasannya.
- Elvariza Opita
- Kamis, 18 Juni 2020 - 19:49 WIB
WowKeren - Berbagai penelitian terus dikembangkan untuk mengungkap fakta di balik virus Corona penyebab COVID-19. Namun tak melulu memberi kabar baik, beberapa kali hasil penelitian itu mengungkap fakta "mengerikan" di balik virus tersebut.
Salah satunya seperti yang baru-baru ini diungkap oleh sekelompok peneliti di Wuhan, Tiongkok. Sebab dari penelitian itu disimpulkan hanya sebagian kecil pasien sembuh Corona yang memiliki antibodi untuk melawan infeksi ulang virus tersebut.
Hasil ini tampak dari penelitian terhadap tenaga-tenaga medis Wuhan yang sempat terinfeksi virus pada awal pandemi. Ada sekitar 5 ribu sampel yang terbukti terinfeksi virus Corona dalam rentang waktu berdekatan, tetapi hanya kurang dari 4 persen yang mengembangkan antibodi.
"Tampaknya manusia tidak benar-benar bisa memproduksi antibodi yang bertahan lama yang bisa melindungi tubuh dari serangan virus," ujar para peneliti, dikutip dari publikasi ilmiah di medRxiv.org pada Selasa (17/6) kemarin. Padahal banyak yang berharap para penyintas COVID-19 ini memproduksi antibodi untuk meminimalisir potensi kembali tertular virus Corona.
Selama ini dunia medis pun "bergantung" pada pemikiran bahwa penyintas COVID-19 bisa memproduksi antibodi terhadap virus tersebut. Seperti misalnya dengan beberapa negara yang mengembangkan "sertifikat imun", atau produksi vaksin, dan para pasien sembuh yang diimbau untuk menyumbangkan plasma darah mereka.
Sebagai informasi, antibodi yang dimaksud di sini adalah molekul senyawa di dalam tubuh seperti Immunoglobulin G (IgG) yang bisa "mematikan" virus yang telah dikenalinya. Biasanya IgG ini bisa bertahan lama di dalam tubuh manusia, bahkan ada yang sampai 12 tahun setelah infeksi virus pertama kali, seperti pada penyintas SARS.
Namun nyatanya hal ini tak ditemui di para pasien sembuh COVID-19 yang diteliti oleh peneliti Rumah Sakit Zhongnan milik Universitas Wuhan yang dipimpin oleh Wang Xinhuan. Wang dan tim menemukan mereka mengembangkan antibodi sampai sekitar 2 pekan setelah infeksi, namun senyawa pelindung itu kemudian menghilang setelah sebulan.
Hasil penelitian ini jelas harus menjadi pertimbangan untuk penentuan kebijakan setiap negara dalam menghadapi wabah virus Corona. Termasuk rencana herd immunity yang dikembangkan oleh beberapa negara, dengan harapan antibodi terhadap virus Corona muncul dengan sendirinya di tengah masyarakat yang tak dibatasi aktivitasnya walau pandemi Corona.
"Penemuan kami berimplikasi besar pada (rencana) herd immunity. Terhadap strategi kesehatan berdasarkan antibodi sampai pengembangan vaksin," kata Wang, seperti dilansir dari South China Morning Post, Kamis (18/6). "Jadi gagasan untuk mengembangkan sertifikat imun bagi pasien sembuh COVID-19."
(wk/elva)