Tikus merupakan salah satu hewan liar yang kerap dikonsumsi masyarakat termasuk di Indonesia. Belakangan terungkap hewan pengerat itu mengandung beragam jenis virus Corona.
- Elvariza Opita
- Jumat, 19 Juni 2020 - 16:11 WIB
WowKeren - Tikus jelas bukan termasuk hewan yang lazim dikonsumsi. Namun nyatanya ada beberapa kelompok masyarakat yang lazim memakan hewan-hewan liar semacam tikus, seperti misalnya masyarakat Sulawesi Utara atau Vietnam.
Jadi bukan lagi hal yang aneh apabila ditemui pasar hewan liar terutama di kawasan Asia Tenggara. Padahal saat ini hewan liar kerap "disalahkan" sebagai sumber virus Corona yang menjadi pandemi dunia.
Namun pandemi nyatanya tak membuat pasar hewan liar berhenti beroperasi meski ada potensi yang mengonsumsi tertular penyakit "aneh". Menanggapi hal itu, baru-baru ini peneliti mengungkap bahwa hewan liar seperti tikus, yang awam diperjualbelikan di Asia Tenggara, mengandung beragam jenis virus Corona.
Beruntungnya, galur atau strain virus Corona di dalam tikus itu bukan penyebab COVID-19 serta tak dianggap berbahaya bagi kesehatan manusia. Hanya saja peneliti mengingatkan bahwa hewan liar bisa menjadi inkubator alias pembawa penyakit.
"Percampuran berbagai jenis virus Corona, dan amplifikasi yang tampak di sepanjang rantai pasokan sampai ke restoran," ungkap tim peneliti gabungan dari Amerika Serikat dan Vietnam, dilansir BBC Indonesia, Jumat (19/6). "Menunjukkan risiko terbesar bagi konsumen di hilir."
Maksudnya risiko terbesar tertular penyakit dari hewan liar dialami oleh masyarakat yang mengolah sampai mengonsumsinya. Kendati penelitian ini didasarkan pada tikus, nyatanya bisa berlaku untuk hewan-hewan liar lain seperti luwak dan trenggiling yang juga kerap dikonsumsi sebagai kuliner ekstrem.
"Walaupun ini bukan virus berbahaya, mereka memberikan informasi tentang bagaimana virus dapat diamplifikasi dalam kondisi ini," ungkap Sarah Olson, pimpinan peneliti dari Kelompok Konservasi WCS di Vietnam. Rekan sejawatnya, Amanda Fine juga membenarkan pernyataan Olson tersebut.
Menurut Fine, bagaimana kondisi satwa liar ketika diternakkan, didistribusikan, sampai diolah, meningkatkan potensi paparan virus. "Rantai pasokan satwa liar, dan kondisi yang dialami hewan saat berada dalam rantai pasokan, tampaknya sangat memperkuat prevalensi virus Corona," ujar Fine.
Sebagai informasi, ada peningkatan sampel positif secara berjenjang di setiap "pos" rantai pasokan hewan liar sampai ke tangan konsumen. Seperti di pertanian alias habitat aslinya, sampel positif mencapai 6 persen. Di tangan pedagang mencapai 21 persen, meningkat di pasar besar sampai 32 persen, dan terakhir sekitar 56 persen dari sampel hewan liar di restoran positif terinfeksi virus Corona.
(wk/elva)