Seorang remaja berusia 18 tahun mengaku menderita sindrom TikTok yang membuatnya tak bisa mengontrol gerakan tubuhnya. Bahkan ia harus mengonsumsi obat untuk menghentikan hal tersebut.
- Neressa Prahastiwi
- Rabu, 24 Juni 2020 - 15:45 WIB
WowKeren - Video viral mengenai sindrom TikTok belakangan ramai diperbincangkan. Seorang remaja bernama Kesar mengaku mengalami sindrom tersebut akibat terlalu sering bermain TikTok. Pengakuan Kesar melalui video di Instagram pribadinya kini telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali.
"Nama saya Kesar, 18 tahun. Awalnya saya main TikTok buat senang-senang doang. Lama-kelamaan merasa ada yang aneh," ungkap Kesar. "Saya tidak bisa mengontrol tubuh saya. Ternyata setelah saya cek, saya terkena TikTok Syndrome."
Kesar bahkan mengaku harus minum obat agar bisa mengontrol tubuhnya untuk tidak berjoget. "Saya harus minum obat dua kali sehari untuk meditasi agar tubuh saya tidak bergerak-gerak terus. Lama-lama saya terbiasa karena minum obat dengan rutin. Dan dokter menyarankan saya untuk mengurangi main TikTok," jelas Kesang.
Sontak pengguna media sosial dibuat resah dan mempertanyakan kebenaran adanya sindrom TikTok. Hingga saat ini, belum ada riset yang dapat membuktikannya. Namun ketika melihat keterangan yang dituliskan Kesar, video tersebut hanya merupakan bentuk sindiran semata.
"Kisah seorang remaja yang terkena TikTok Syndrome," tulis Kesar pada Jumat (19/6) lalu. "Komedi sarkas (awas konten sensitif)."
Dilihat dari unggahan-unggahannya di Instagram, Kesar kerap membagikan pendapat mengenai berbagai tren yang sedang diperbincangkan. Salah satunya mengenai orang-orang yang sering menggunakan kata "aesthetic" untuk mengaitkan dengan gaya pakaian serba gombrong.
Konsep video dengan akting yang cukup serius membuat sindrom TikTok banyak dianggap benar-benar ada. Meski sindrom TikTok belum ada, kecanduan media sosial telah dikategorikan sebagai penyakit mental. Karena itu, penggunaan TikTok pun diharapkan masih dalam batas wajar.
(wk/nere)