LAPAN Rilis Jadwal 16 Fenomena Astronomi Bulan Juli, Ada Hujan Meteor Hingga Gerhana
SerbaSerbi

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah merilis 16 fenomena astronomi beserta jadwalnya yang akan mewarnai langit di bulan Juli 2020 ini. Apa saja?

WowKeren - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan jika bulan Juli 2020 ini akan diwarnai dengan sejumlah fenomena astronomi. Setidaknya, ada 16 fenomena alam yang akan menghiasi langit di awal pertengahan tahun ini.

LAPAN juga turut menjelaskan terkait berbagai fenomena tersebut. Selain itu, LAPAN juga merilis jadwal masing-masing fenomena astronomi tersebut. Berikut merupakan fenomena-fenomena di bulan Juli 2020:


1. Konjungsi Inferior Merkurius: 1 Juli

Fenomena ini merupakan pergantian ketampakan Merkurius yang semula dapat terlihat ketika senja, kemudian berubah menjadi ketika fajar. Pada momen ini, LAPAN menyebut posisi Merkurius berada dekat Manzilah Alhena di konstelasi Gemini.

”Fase ini terjadi pada pukul 11.44 WIB,” kata LAPAN seperti dilansir dari CNNIndonesia, Selasa (30/6). “1 Juli konjungsi inferior Merkurius, (yakni) ketika Matahari, Merkurius, dan Bumi berada pada satu garis lurus.”

2. Gerhana Bulan Penumbra: 5 Juli

Fenomena gerhana Bulan Penumbra juga akan terjadi pada 5 Juli. Namun, LAPAN mengatakan jika fenomena ini tidak bisa dilihat di Indonesia karena Bulan sudah berada di bawah ufuk. “Gerhana Bulan penumbra kali ini terjadi mulai pukul 10.17.23 WIB hingga 12.52.21 WIB dengan puncak gerhana pada pukul 11.29.51 WIB,” terang LAPAN.

3. Konjungsi Bulan dan Jupiter: 5-6 Juli

Fenomena ini ini akan terjadi pada tanggal 5-6 Juli. LAPAN menjelaskan jika waktu terbaik untuk mengamati konjungsi Bulan dan Jupiter adalah ketika fajar bahari/nautika, yaitu sekitar jam 05.00 WIB dengan jarak pisah 2 derajat. Saat itu, posisi Jupiter berada di sebelah utara atau kanan Bulan.

4. Konjungsi Bulan dan Saturnus: 6-7 Juli

Fenomena ini akan terjadi pada tanggal 6-7 Juli. Waktu terbaik untuk menikmati fenomena konjungsi Bulan dan Saturnus adalah ketika keduanya telah terbit di ufuk Barat, yakni pada pukul 19.00 WIB dengan jarak pisah 3 derajat dan posisi Saturnus berada di Barat Daya atau kiri atas Bulan.

5. Konjungsi Bulan dan Mars: 12 Juli

Fenomena konjungsi Bulan dan Mars akan terjadi pada 12 Juli 2020 pukul 05.48.56 WIB. Dalam waktu ini, Bulan memasuki fase Cembung Akhir dengan jarak 403.726 km dari Bumi. Sedangkan Mars berfase Cembung dengan jarak 112,7 juta km dari Bumi dan 207,2 juta km dari Matahari.

6. Konjungsi Venus-Aldebaran: 12 Juli

Waktu pengamatan fenomena konjungsi Venus-Aldebaran adalah ketika fajar nautika/bahari, yakni sekitar pukul 05.00 WB dengan jarak pisah 57,7 menit busur atau 0,96 derajat. “Dan posisi Aldebaran berada di sebelah selatan atau kanan Venus,” jelas LAPAN.

7. Fenomena Apgee Bulan: 13 Juli

Fenomena Apgee Bulan akan terjadi 13 Juli 2020, dengan waktu pengamatan terbaik pukul 02.26.23 WIB. Saat itu, Bulan akan berada pada posisi terjauh dari Bumi, yakni 404.158 km.

8. Fase Perbani: 13 Juli

Fase perbani akan terjadi bahkan dari pagi hari hingga terbenam ketika tengah hari. Fase Perbani akhir terjadi pada pukul 06.28.51 WIB dan dapat diamati dengan mata telanjang meskipun langit sudah terang. LAPAN menjelaskan Bulan akan terbit ketika tengah malam dan berkulminasi ketika Matahari terbit.

9. Oposisi Jupiter: 14 Juli

Fenomena ini akan menunjukkan posisi Jupiter, Bumi, dan Matahari berada pada satu garis lurus. Seperti fase bulan purnama, Jupiter dapat terlihat paling terang jika teramati dari Bumi. Puncak oposisi Jupiter terjadi pada pukul 15.03 WIB.

10. Konjungsi Bulan dan Venus: 17 Juli

Fenomena konjungsi Bulan-Venus ini paling tepat diamati sekitar pukul 05.15 WIB. LAPAN menjelaskan dalam konfigurasi ini, terlihat segitiga siku-suki Bulan-Venus-Adebaran dan membentuk garis lurus terhadap Pleiades yang terletak di barat laut.

11. Konjungsi Bulan dan Merkurius: 19 Juli

Fenomena ini dapat disaksikan dengan waktu terbaik ketika fajar sipil sekitar pukul 05.30 WIB. Ketika berkonjungsi, Bulan dikabarkan terletak pada jarak 385.000 km dari Bumi dan memasuki fase Sabit Akhir. Sedangkan Merkurius, lanjut Lapan berjarak 117,2 juta km dari Bumi.

12. Fase Bulan Baru: 21 Juli

LAPAN menjelaskan fenomena ini akan terjadi pada pukul 00.32.44 WIB. Kala itu, Bulan berjarak 377.192 km dari pusat. Hilal pada fase Bulan baru dapat diamati dengan menggunakan alat bantu seperti binokular dan teleskop sebelum maupun setelah Matahari terbit.

13. Oposisi Saturnus: 21 Juli

Fenomena ini akan memperlihatkan bagaimana Saturnus, Bumi, dan Matahari berada pada satu garis lurus atau disebut oposisi Saturnus. Puncak oposisi dikabarkan akan terjadi pada 05.33 WIB dan dapat diamati dari wilayah Indonesia bagian barat selama Matahari belum terbit.

14. Elongasi Merkurius: 23 Juli

LAPAN menyatakan jika fenomena ini dapat diamati ketika terbitnya Merkurius sekitar pukul 04.39 WIB hingga terbitnya Matahari. Kala itu, posisi Merkurius berada di dekat Manzilah Alhena di konstelasi Gemini.

15. Fenomena Perigee Bulan: 24 Juli

Fenomena ini akan menunjukkan posisi terdekat Bulan dari Bumi. Saat itu, Bulan dikabarkan hanya berjarak 368.397 km dari Bumi pada pukul 11.53.38 WIB. Fenomena itu dapat diamati dengan mata telanjang.

16. Puncak Meteor Delta Aquarid: 28-29 Juli

Hujan meteor akan menutup deretan fenomena astronomi di bulan Juli 2020. Puncak hujan meteor Delta Aquarid akan terjadi pada tanggal 28-29 Juli meski aktif mulai 12 Juli hingga 23 Agustus. Pengamatan terbaik adalah sebelum fajar astronomis atau sekitar pukul 03.00-04.00 waktu setempat.

”Bulan kuartir kedua akan menghalangi cahaya meteor yang redup,” kata LAPAN. “Tetapi, jika Anda bersabar, anda masih bisa menangkap beberapa yang lebih cerah. Tampilan terbaik akan berasal dari lokasi yang gelap.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts