Tak Hanya Paru-Paru dan Otak, Corona Ternyata Juga 'Rusak' Indera Penciuman dan Perasa
Health
Pandemi Virus Corona

Peneliti menemukan penyintas COVID-19 bisa mengalami sejumlah gangguan pasca dinyatakan negatif terinfeksi virus. Termasuk mengalami gangguan pada indera perasa dan penciuman untuk jangka waktu panjang.

WowKeren - COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Namun nyatanya ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi seperti kerusakan permanen pada paru-paru maupun otak.

Selain itu, rupanya virus Corona juga bisa mengganggu kesehatan indera penciuman dan perasa pada individu yang bersangkutan. Bahkan diperlukan waktu sampai satu bulan setelah sembuh agar indera penciuman dan perasa itu bisa kembali seperti sediakala.


Hal ini diungkap oleh peneliti dari Italia. Mereka menyebut sebanyak 113 dari 187 penyintas melapor kembali bisa mencium dan merasakan dengan normal dalam jangka waktu sebulan. Namun sisanya memerlukan waktu lebih lama karena pemulihannya bertahap.

Tak hanya itu, mereka yang mengalami pemulihan lebih lambat ternyata juga masih mengalami gejala klinis COVID-19 yang menyerupai flu. Dan gejala klinis inilah yang kemudian membuat indera penciuman serta perasa mereka akan jauh lebih lama pulih dari perkiraan.

Menanggapi hal tersebut, Claire Hopkins dari Perkumpulan Pakar Rhinologi Inggris meyakin bahwa virus sudah mempengaruhi sel-sel di dalam hidung, bahkan sampai "menyerang" sistem sarafnya. Karena itulah diperlukan waktu lama untuk indera penciuman dan perasa itu kembali seperti sediakala.

"Data penyakit dan beberapa informasi baru yang kami kumpulkan menunjukkan, sebagian besar orang akan sembuh," kata Hopkins, seperti dilansir pada Jumat (3/7). "Tapi ada pula yang pulih secara perlahan."

"Virus tampaknya sudah mempengaruhi seluruh sel di dalam hidung orang-orang yang pulih secara cepat," imbuh Hopkins. "Sedangkan di kalangan orang yang pulih secara perlahan, virus corona juga mempengaruhi saraf penciuman. Saraf itu butuh waktu lama untuk berfungsi normal."

Untuk mengatasinya, pakar dari Emory University School of Medicine, Joshua Levy, menyarankan para penyintas untuk mengikuti terapi setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19. Salah satunya adalah terapi indera penciuman supaya bisa segera kembali seperti sediakala.

Sebelumnya para pakar mengungkapkan beberapa komplikasi serius yang bisa dialami oleh penyintas COVID-19 setelah dinyatakan negatif terinfeksi virus. Mulai dari kerusakan paru-paru secara permanen, kerusakan pada organ otak dan sistem saraf seperti stroke, hingga gangguan mental karena penyintas mengalami trauma pasca perawatan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts