'Master in the House' Digugat Warga Amerika Karena Syuting Tanpa Izin, Begini Tanggapan SBS
TV

Tak diketahui publik, 'Master in the House' ternyata terlibat sengketa hukum dengan warga California, Amerika Serikat, selama dua tahun terakhir. Simak informasi selengkapnya berikut ini.

WowKeren - Kabar tak mengenakkan datang dari variety show SBS "Master in the House". Program yang digawangi oleh Lee Seung Gi cs ini telah terlibat dalam sengketa hukum dengan penduduk Tustin dan Irvine, California, Amerika Serikat, karena syuting secara ilegal di wilayahnya.

Sebelumnya pada 3 Agustus, 11 penduduk lokal California telah mengajukan pengaduan ke Kantor kejaksaan Distrik Pusat Seoul terhadap SBS dan tim produksi "Master in the House". Mereka mengaku telah mengalami sejumlah kerugian akibat proses syuting yang dilakukan oleh "Master in the House" pada tahun 2018. Mulai dari penipuan, masuk tanpa izin, perusakan properti, melanggar peraturan lalu lintas jalan raya hingga menghambat lalu lintas umum.

Menurut peraturan daerah, fasilitas yang ada di komunitas setempat tidak dapat digunakan untuk tujuan komersial atau tujuan non-hunian lainnya. Pelanggaran atas peraturan tersebut dapat menyebabkan hukuman atau ligitasi seperti kasus "Master in the House" ini.

Warga setempat mempermasalahkan syuting "Master in the House" di berbagai fasilitas publik seperti taman, jalan dan lain sebagainya. Meskipun proses syuting dapat diotorisasi, badan pengelola Tustin menyatakan bahwa mereka tidak pernah memberikan izin kepada tim produksi untuk melakukan pengambilan gambar di wilayah tersebut.

Selain itu, warga setempat juga mengklaim jika tim produksi telah membobol wilayah pribadi yang hanya bisa diakses oleh warga, yakni kolam renang komunitas. Sebab di bagian pintu masuk terdapat tanda yang menyatakan bahwa kolam renang tersebut hanya bisa dimasuki oleh anggota komunitas. Namun para pemain dan bintang tamu malah berenang serta melakukan beragam permainan, di mana adegan-adegan tersebut ditayangkan di layar kaca.

Sehubungan dengan masalah ini, pengacara Lee Ji Young yang bertugas membela warga Amerika menyatakan bahwa warga setempat sangat menghargai privasi. Karena itulah mereka jadi sangat marah saat tahu orang luar memasuki wilayahnya secara ilegal, terlebih untuk tujuan komersial.

Beberapa warga bahkan menyatakan jika ada kru yang menyamar sebagai turis untuk berbohong dengan mengatakan bahwa mereka datang untuk menggelar pesta. "Kami tidak pernah memberikan izin kepada SBS untuk syuting. (Bahkan polisi datang) dan memperingatkan mereka untuk menghentikan aktivitas mereka yang mencurigakan," terang seorang warga.


Pernyataan dari pejabat agen lokal yang membantu syuting bahkan semakin menyudutkan "Master in the House". "Kami memberitahu penjaga keamanan bahwa kami juga diundang ke pesta ulang tahun, dan tergantung situasinya, kami memberitahu penduduk yang ada di kolam renang bahwa kami syuting untuk alasan pribadi atau mengadakan pesta ulang tahun," terang pejabat tersebut.

"Kami mengatakan kepada staf beberapa kali untuk tidak syuting secara ilegal, tapi SBS menyatakan bahwa mereka akan bertanggung jawab atas semuanya," terangnya kemudian.

Bahkan ada seorang warga yang mengaku jika dirinya mengalami kerusakan mobil atas gesekan yang diakibatkan oleh peralatan syuting kru "Master in the House". Lebih lanjut, warga juga dibuat geram saat kru dan pemain syuting di malam hari, menerbangkan drone secara ilegal serta melanggar kawasan parkir.

Di sisi lain, SBS menyatakan bahwa mereka telah melakukan syuting sesuai prosedur tanpa masalah. Seorang pengacara yang mewakili SBS menyatakan bahwa tim produksi telah mendapat izin dari agen lokal serta mematuhi berbagai prosedur, termasuk membayar semua biaya.

Bertentangan dengan klaim warga, SBS menyatakan bahwa mereka melakukan pengambilan gambar di club house sewaannya sendiri, bukan di berbagai fasilitas komunitas. Termasuk kolam renang yang dimaksud juga merupakan fasilitas dari club house. SBS juga mengatakan bahwa mereka tidak menemukan kerusakan pada kendaraan warga akibat gesekan peralatan syuting. Sebaliknya, mereka membalas dengan mengatakan bahwa tidak ada cukup bukti dari firma hukum setempat.

Lebih lanjut, SBS mengklaim bahwa mereka adalah korban, bukannya warga Tustin dan Irvine. Pasalnya penggugat pada awalnya menuntut ganti rugi sebesar 5 juta dolar (sekitar Rp 74,3 miliar). Tak hanya itu, SBS juga menyatakan bahwa warga telah mengajukan berbagai tuntutan tidak adil selama hampir dua tahun dan mereka mempertimbangkan untuk mengambil tindakan hukum balasan untuk warga.

Di sisi lain, pengacara Lee Ji Young menyatakan bahwa warga tidak menerima permintaan maaf dari SBS selama dua tahun dan mengklaim jika SBS menyebut warga setempat telah menyebarkan informasi palsu. Padahal menurutnya, warga hanya mengajukan dua permintaan. Yang pertama, membuat undang-undang yang melarang jaringan Korea syuting secara ilegal di luar negeri demi mencegah sengketa hukum dan kerusakan citra bangsa. Dan yang kedua adalah permintaan maaf SBS dan perenungan tindakan ilegal mereka.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts