Kasus Radang Otak Langka Melonjak Selama Pandemi, Efek Corona?
Health

Peneliti dari Inggris telah menemukan adanya lonjakan kasus radang otak langka yang terjadi selama pandemi virus corona. Lantas, apakah itu efek samping COVID-19?

WowKeren - Negara-negara di dunia saat ini terus berlomba dalam melakukan berbagai penelitian seputar virus corona (COVID-19). Penelitian-penelitian yang terus dilakukan diharapkan dapat memberikan titik terang hingga mengungkap fakta-fakta baru yang belum diketahui seputar virus asal Wuhan, Tiongkok tersebut.

Salah satu penelitian yang terus dilakukan adalah mengenai dampak infeksi virus corona terhadap kesehatan. Para peneliti dari Inggris baru-baru ini memaparkan temuan mengenai lonjakan kasus radang otak langka yang terjadi di tengah pandemi COVID-19.

Tim peneliti dari University College London melaporkan adanya peningkatan kasus acute disseminated encephalomyelitis (ADEM). Peningkatan tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan oleh para peneliti. “Peningkatan yang mengkhawatirkan,” ungkap pada peneliti seperti dilansir dari Foxnews, Jumat (21/8).

Peneliti menjelaskan jika radang otak langka ADEM biasa hanya ditemukan satu kasus setiap bulannya sebelum pandemi virus corona merebak. Pasien yang kerap terkena penyakit ini adalah orang dewasa.


Namun sejak pandemi virus corona mulai mengguncang dunia, kasus ADEM justru semakin banyak ditemukan. Peneliti mengungkapkan setidaknya sekarang ada satu kasus di setiap pekan.

Lantas apakah lonjakan kasus radang otak langka itu disebabkan oleh efek samping virus corona? Peneliti kemudian memaparkan jika belum tentu penyebabnya karena paparan infeksi COVID-19.

Menurut peneliti, peningkatan jumlah pasien dengan gangguan neurologis disebutkan tidak selalu berhubungan dengan keparahan gejala pada sistem pernapasan. Oleh sebab itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap hubungan radang otak langka dengan infeksi virus corona.

Pasalnya, virus corona yang selama ini menginfeksi seseorang biasa menyebabkan masalah pernapasan. Maka, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan mekanisme patobiologis di balik temuan tersebut.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait