Kabar Baik, Peneliti Ungkap Tak Ada Kasus Infeksi Ulang Virus Corona
Health

Ahli kesehatan dari India mempertegas anggapan bahwa tak ada penyintas yang bisa kembali terinfeksi virus Corona, meski kebenaran di balik pernyataan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut secara ilmiah.

WowKeren - Masih banyak hal yang belum terungkap soal wabah COVID-19. Termasuk di antaranya soal potensi virus Corona bisa kembali menginfeksi penyintas yang berhasil mengalahkan penyakit tersebut.

Selama ini peneliti kerap menyampaikan tak ada penyintas yang benar-benar kebal terhadap COVID-19. Namun temuan terbaru soal kekebalan tubuh pasien sembuh Corona membantah anggapan tersebut, yang belakangan makin diperkuat dengan hasil studi yang menyatakan tak ada bukti COVID-19 bisa kembali menyerang penyintas.

Temuan ini disampaikan oleh anggota dari Satuan Tugas Penelitian Epidemiology and Surveillance Indian Council of Medical Research, Giridhar Babu. Babu mengungkapkan tak ada bukti yang memastikan kekambuhan pada pasien sembuh COVID-19 karena sebenarnya gejala yang timbul adalah gejala sisa alih-alih pertanda baru.

"Kami melihat bukti dari seluruh dunia bahwa tidak ada infeksi ulang," ungkap Babu, dikutip dari Times Now News, Jumat (21/8). "Jadi ketika kami mengatakan itu hanya terjadi di India maka itu mungkin sesuatu yang baru."


Pernyataan ini juga dibenarkan oleh Swapnil Kulkarni, seorang dokter spesialis paru-paru di Rumah Sakit KEM Mumbai India. Kulkarni mengaku tak pernah menerima informasi ilmiah soal pasien sembuh COVID-19 yang kembali mengalami infeksi virus Corona.

"Ada kasus di mana hasil tes RT-PCR menunjukkan hasil positif untuk pasien yang telah pulih dari COVID-19," jelas Kulkarni. "(Tapi) karena tes ini mendeteksi sisa-sisa virus mati di dalam tubuh."

Bila yang dideteksi adalah sisa-sisa virus, maka kondisinya tidak berbahaya. Hanya diperlukan sekitar satu sampai dua bulan agar virus itu benar-benar pergi dari dalam tubuh.

Namun Kulkarni juga menegaskan masih belum ada kejelasan apakah tes ini positif karena infeksi ulang atau karena adanya sisa-sisa infeksi terdahulu. Sebab persentase negatif palsu dan positif cukup tinggi dalam tes RT-PCR.

Kendati demikian, Kulkarni dan Babu membenarkan bila ada pasien sembuh COVID-19 yang berobat karena mengalami gejala serupa. Namun hal ini bukan sesuatu yang aneh mengingat 75 persen pasien sembuh memang masih sesekali merasakan gejala klinis positif COVID-19.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait