Kisah Pilu Penggali Makam Khusus Corona di Surabaya, Akui Sudah Kebumikan 1.500 Lebih Jenazah
Getty Images
SerbaSerbi

Bahkan pada awal pandemi, sang penggali makam mengaku harus bekerja 24 jam penuh karena bertanggung jawab mengebumikan sampai 35 jenazah dalam sehari. Begini kisah mereka selengkapnya.

WowKeren - Kota Surabaya dikenal menjadi salah satu episentrum penyebaran wabah COVID-19 terburuk di Indonesia. Bahkan belakangan terungkap sudah lebih dari seribu jenazah yang terkait dengan COVID-19 yang telah dimakamkan di Kota Pahlawan.

Kisah ini disampaikan oleh Munaji, salah satu penggali makam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Kota Surabaya. Selama bekerja di sana, Munaji mengaku sudah menguburkan sekitar 800 jenazah pasien COVID-19, baik yang berstatus positif maupun masih suspek atau probable.

Namun angka ini belum final, sebab Munaji dan rekan-rekan juga bekerja di TPU Babat Jerawat. Bila diakumulasi, maka sekitar 1.500 jenazah sudah ia makamkan selama pandemi COVID-19.

"Ini nyata, pemakamannya COVID-19 mulai dari awal pandemi sampai sekarang, sekitar 1.500-an lebih" terang Munaji, Senin (24/8). Bahkan Munaji mengaku ketika awal-awal pandemi ia harus bekerja sampai 24 jam dalam sehari demi menguburkan sekitar 35 jenazah sekaligus.

Munaji pun sudah tahu seberapa besar konsekuensi dari pekerjaan yang diembannya ini. Kendati demikian, Munaji mengaku tetap waswas bisa tertular COVID-19 yang sudah menginfeksi lebih dari 155 ribu orang di Indonesia tersebut dan bertahan karena ketulusan serta panggilan tugasnya.


Oleh karenanya, Munaji mengajak masyarakat untuk lebih mematuhi protokol kesehatan demi menghentikan penyebaran wabah COVID-19. Bila penyebaran wabah berkurang, maka jumlah korban meninggal dunia akibat COVID-19 juga bisa menurun.

"Kapan ini akan berakhir? Kita sudah lelah, kita sudah jenuh. Namun bagaimana lagi, ini sudah tugas," beber Munaji, dilansir dari Kompas, Selasa (25/8).

Kisah serupa juga disampaikan oleh Herman (55), petugas penggali makam khusus jenazah Corona di TPU Gandus Hill, Palembang, Sumatera Selatan. Mirisnya Herman dan kawan-kawan bahkan tak dibekali dengan alat pelindung diri (APD). Namun demi misi kemanusiaan, Herman pun ikhlas melakukan pekerjaan tersebut.

"Kalau kita semua menolak untuk memakamkan, terus siapa yang mau memakamkan? Saya hanya berdoa minta perlindungan sama Allah, selama bekerja. Ini semua demi kemanusiaan," ungkap Herman.

Pria paruh baya itu mengaku mendapat upah Rp 750 ribu untuk satu lubang yang dibagi merata dengan kawan-kawan lain. "Tidak ada uang tambahan lain, hanya itu saja. Kalaupun ada dikasih vitamin," pungkas Herman.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!