Parosmia merupakan kondisi ketika otak tak bisa mengenali aroma sesungguhnya dari suatu benda. Penderitanya akan mencium aroma 'aneh' seperti daging busuk ketika benda itu tak ada di sekitar mereka.
- Elvariza Opita
- Selasa, 01 September 2020 - 13:23 WIB
WowKeren - Selama ini pasien dan penyintas COVID-19 dihadapkan pada gejala klinis yang disebut sebagai anosmia. Gangguan ini menyebabkan pasien COVID-19 tak bisa mencium aroma karena virus Corona sudah merusak jaringan dan ujung saraf di hidung mereka.
Namun ternyata anosmia bukan satu-satunya gangguan yang harus dihadapi mereka pejuang COVID-19. Belakangan terungkap suatu kondisi yang disebut sebagai parosmia, yakni ketika penyintas COVID-19 mengalami distorsi bau alias mencium aroma yang tidak semestinya dari sebuah benda.
Seperti diungkap oleh Kate McHenry, seorang pasien COVID-19 di Cheshire, Inggris. McHenry mengalami anosmia selama 4 pekan karena COVID-19 yang ia derita, kemudian perlahan indera penciumannya kembali meski malah aroma-aroma aneh yang berhasil ia cium.
Air keran biasa menurutnya menguarkan aroma tidak enak. "Sampo Aussie yang dulu adalah favorit saya, sekarang menjadi bau paling menjijikkan di dunia," bebernya, dilansir dari BBC Indonesia, Selasa (1/9).
Situasi ini mengubah kehidupan McHenry. Mandi, memasak, hingga makan, semua aktivitas harian itu mendadak menjadi masalah besar yang bahkan menyebabkannya kehilangan berat badan sampai mengalami gangguan kecemasan.
"Saya suka makanan enak, pergi ke restoran, minum-minum dengan teman-teman, tapi sekarang semua itu sudah hilang. Daging rasanya seperti bensin dan anggur prosecco rasanya seperti apel busuk," tuturnya. "Jika pasangan saya, Craig, makan kari, saya merasa baunya sangat tak enak. Bahkan saya merasa baunya keluar dari pori-porinya, jadi saya berjuang kalau berada di dekatnya."
"Saat masak di malam hari saya merasa kesal. Craig akan berkata 'kamu ingin makan apa?' dan saya merasa sangat sedih karena tidak ada yang saya inginkan. Saya tahu semuanya akan terasa mengerikan," imbuhnya. "Implikasi yang ditimbulkannya terhadap hidup saya sangat besar dan saya sangat takut saya akan terjebak seperti ini selamanya."
Parosmia sendiri sebenarnya bukan situasi yang tidak lazim dalam konteks infeksi saluran pernapasan. Biasanya parosmia dikaitkan dengan flu biasa, sinusitis, hingga cedera kepala.
Penderita parosmia biasanya menggambarkan aroma-aroma tak lazim seperti bau terbakar, asap rokok, sampai daging busuk. Bahkan dalam beberapa kasus yang parah, penderita parosmia bisa sampai muntah.
Masih dilansir dari BBC Indonesia, hal ini disebabkan dari tidak mampunya otak mengidentifikasi bau sebenarnya dari suatu benda. Gangguan ini bisa terjadi ketika saraf-saraf yang rusak karena anosmia perlahan tumbuh kembali.
Para profesional berharap parosmia merupakan tanda pulihnya kembali indera penciuman. Namun bagi sebagian orang, penderitaan itu harus dialami selama bertahun-tahun sebelum benar-benar sembuh.
(wk/elva)