Penggunaan masker dikhawatirkan membuat kondisi pasien COVID-19 yang rawan mengalami happy hypoxia, alias penurunan kadar oksigen dalam tubuh tanpa disadari, akan semakin parah. Benarkah?
- Elvariza Opita
- Jumat, 04 September 2020 - 14:22 WIB
WowKeren - Masker merupakan produk kesehatan yang wajib digunakan selama pandemi COVID-19. Namun banyak yang mengaku tak terbiasa menggunakan masker karena dianggap mempersulit jalannya pernapasan.
Hal itu pun memicu kekhawatiran sejumlah pihak bila penggunaan masker malah menyebabkan pasien COVID-19 semakin kesulitan bernapas. Dan ujungnya, dikhawatirkan pasien itu mengalami happy hypoxia, alias komplikasi gejala klinis ketika saturasi oksigen dalam darah pasien COVID-19 menurun drastis hingga berpotensi menyebabkan kematian.
Kekhawatiran ini pun akhirnya dijawab oleh dokter spesialis paru-paru RS Persahabatan, dr Andika Chandra Putra, Sp.P, PhD. "Tentu ada penurunan (kadar) oksigen, tapi itu masih bisa ditoleransi," jelas Andika melalui sambungan telepon pada Kamis (3/9).
Ia tak menampik bahwa pemakaian masker mengurangi volume oksigen yang masuk ke dalam tubuh. Sebab kain masker tentu saja menghalangi lubang hidung yang merupakan lokasi awal udara dengan kandungan oksigen masuk ke dalam tubuh.
Hanya saja Andika juga memastikan, penurunan volume oksigen itu tak signifikan sampai membuat menurunkan kadar oksigen di dalam tubuh. Bahkan untuk para tim medis yang menggunakan masker N95, yang notabene sangat "ketat" dalam menyaring partikel udara yang masuk, tak menyebabkan volume oksigen yang masuk berkurang drastis.
"Tidak signifikan (berkurangnya). Sebagai contoh misalkan kita yang sering menggunakan N95. Apakah fungsi parunya menurun atau oksigennya yang menurun?" kata Andika, dilansir dari Republika, Jumat (4/9). "Sampai saat ini dari beberapa laporan kasus tidak ada perubahan (fungsi paru)."
Sebelumnya, Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM, dr. Sumardi juga mengatakan bahwa pasien dengan happy hypoxia memgalami penurunan kadar oksigen dalam darah namun terlihat normal dari luar. Mengejutkannya, penurunan kadar oksigen ini tak lantas menyebabkan yang bersangkutan mengalami kesulitan bernapas atau merasa terengah-engah.
Sehingga tak ada gejala klinis spesifik dari happy hypoxia yang bisa diamati secara fisik. Bahkan kondisi ini hanya bisa dipantau dengan menggunakan alat bernama pulse oximeter. Namun Sumardi juga membagikan tips sederhana untuk mewaspadai gejala happy hypoxia, seperti penjelasan di sini.
(wk/elva)