Pada Jumat (11/9) lalu Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan kesepakatan damai antara Israel dan Bahrain, menyusul perjanjian serupa dengan Uni Emirat Arab yang diteken pada Agustus lalu.
- Luthfiatun Nisa
- Senin, 14 September 2020 - 09:22 WIB
WowKeren - Palestina mengecam langkah Bahrain yang setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dan menyebut hal tersebut sebagai bentuk pengkhianatan. Seperti yang diketahui, pada Jumat (11/9) lalu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengumumkan kesepakatan damai antara Israel dan Bahrain, menyusul perjanjian serupa dengan Uni Emirat Arab yang diteken pada Agustus lalu.
"Otoritas Palestina dengan keras menolak dan mengutuk deklarasi trilateral Amerika Serikat-Bahrain-Israel tentang normalisasi hubungan antara negara penjajah Israel dan Kerajaan Bahrain," kata Otoritas Palestina dalam sebuah pernyataan. Pernyataan itu menyebut langkah normalisasi tersebut adalah pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsa, dan perjuangan Palestina.
Pernyataan itu menambahkan bahwa langkah Bahrain itu telah merusak Prakarsa Perdamaian Arab 2002 dan resolusi KTT Arab dan Islam. Kelompok Palestina, termasuk Hamas, menganggap normalisasi Bahrain dengan Israel sebagai bagian dari Kesepakatan Abad Ini oleh AS yang ingin menghapus perjuangan Palestina.
Di sisi lain, usai Trump mengumumkan normalisasi antara Israel dan Bahrain, kedua negara lantas merilis pernyataan bersama yang menegaskan bahwa mereka akan menjalin hubungan diplomatik penuh. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang sedang berada di Yerusalem juga memuji kesepakatan dengan Bahrain tersebut.
"Rakyat Israel, saya terharu dapat mengatakan kepada Anda bahwa malam ini, kami mencapai kesepakatan damai dengan negara Arab lainnya, Bahrain. Kesepakatan ini menyusul kesepakatan damai dengan Uni Emirat Arab," kata Netanyahu.
Bahrain bahkan setuju untuk meresmikan kesepakatan tersebut dalam upacara di Gedung Putih pada 15 September mendatang. Diketahui, di hari tersebut Uni Emirat Arab juga akan menghadiri upacara serupa untuk meresmikan kesepakatan damai dengan Israel yang sudah tercapai sejak pertengahan Agustus lalu.
Dengan kesepakatan yang dimediasi oleh AS tersebut, Israel berjanji menghentikan pencaplokan di wilayah Tepi Barat. Kesepakatan damai tersebut sangat bersejarah karena selama ini negara-negara Timur Tengah yang tergabung dalam Liga Arab menolak hubungan diplomatik dengan Israel demi membela Palestina.
Beberapa pejabat Iran memperingatkan bahwa normalisasi hubungan antara UEA dan Israel dapat berisiko menimbulkan kekacauan di Timur Tengah. Palestina dengan keras menentang normalisasi karena melemahnya penolakan tradisional Arab untuk mendukung pembentukan negara Palestina merdeka.
Sementara Abu Dhabi mengatakan kesepakatan itu adalah upaya untuk mencegah rencana aneksasi Israel atas Tepi Barat, wilayah Pelestina yang diduduki. Namun, para penentang percaya upaya normalisasi telah dimulai selama bertahun-tahun karena pejabat Israel pernah melakukan kunjungan resmi ke UEA dan menghadiri konferensi di sana.
(wk/luth)