WHO mengidentifikasi adanya mutasi 'Cluster 5' virus Corona di hewan cerpelai di 6 negara, dengan dominansi kasus di Eropa. Lantas adakah potensi mutasi ini sampai ke Indonesia?
- Elvariza Opita
- Sabtu, 14 November 2020 - 15:13 WIB
WowKeren - Perkembangan wabah virus Corona terus dilaporkan, meskipun acap kali merupakan berita yang bernuansa negatif. Salah satunya soal mutasi yang ditemukan di hewan cerpelai, semacam musang yang awam diternakkan di Denmark dan beberapa negara Eropa lain.
Mutasi yang biasa disebut "Cluster 5" ini pun dikhawatirkan bisa memengaruhi efektivitas dan kemanjuran vaksin yang saat ini sedang dikembangkan. Bahkan beberapa pihak membuka opsi mutasi "Cluster 5" itu bisa menjadi pandemi tersendiri yang mengancam kesehatan masyarakat dunia.
Sejauh ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 6 negara yang terpengaruh mutasi ini, yakni Denmark, Italia, Amerika Serikat, Belanda, Swedia, dan Spanyol. Lantas adakah potensi mutasi baru itu juga ditemukan di Indonesia?
Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio, mengakui kemungkinan itu selalu ada namun sejauh ini sangat kecil. Sebab di Indonesia sendiri tidak ada peternakan cerpelai serta hewan tersebut jarang ditemui di Tanah Air.
"Tapi jenis musangnya beda ya. Dan di Denmark hewan yang termasuk golongan tupai atau musang ini karena bulunya bagus makanya diternak," jelas Prof Amin, Kamis (12/11). "Nah yang ditemukan di sana itu kalau nggak salah ada 4 peternakan, itu ada (virus Corona) di musangnya dan di peternaknya juga ada."
"Yang jadi perhatian itu karena ditemukan kombinasi mutasi yang tidak biasa," imbuh Prof Amin, dilansir dari Detik Health, Sabtu (14/11). "Tetapi ini baru kekhawatiran."
Namun Prof Amin ternyata punya pandangan sendiri soal kekhawatiran mutasi "Cluster 5" menjadi pandemi baru. Sebab sejauh ini mutasi yang teridentifikasi masih SARS-CoV-2.
"Kalau dibilang kemungkinan (pandemi baru) ya bisa saja. Semua mutasi bisa jadi virus SARS-Coronavirus yang berbeda," terang Prof Amin. "Tetapi, saat ini sih masih SARS-CoV-2, masih satu famili. Ya mungkin bedanya hanya varian-varian saja."
Di sisi lain, otoritas Denmark bekerja cepat untuk memeriksa soal seberapa berbahayanya mutasi "Cluster 5" di virus SARS-CoV-2 ini, terutama dari segi efektivitas vaksin. Dan dari hasil penelitian terhadap kelinci terungkap bahwa vaksin potensial yang dikembangkan di Denmark saat ini masih bereaksi melawan virus Corona yang sudah bermutasi di cerpelai.
(wk/elva)