Tumbuh sebagai blasteran di Korea rupanya menyisakan kenangan menyakitkan bagi Jeon Somi. Mantan member IOI itu mengaku sampai ingin tampak lebih Korea karena menjadi korban bully.
- Intan Maharani
- Jumat, 14 Juli 2023 - 15:49 WIB
WowKeren - Jeon Somi mengungkapkan rasanya tumbuh sebagai blasteran Kanada-Korea. Pernah menjadi korban bully semasa sekolah, Somi kecil meminta oplas agar visualnya lebih mirip orang Korea.
Pada Kamis (14/7), Somi muncul di video YouTube PDC. Dalam konten tersebut, idol kelahiran 2002 itu mengungkap rasanya tumbuh dan bergaul sebagai anak blasteran di SD umum Korea.
"Ketika aku masih bayi, aku tidak terlalu memikirkannya sampai aku pindah ke SD Korea. Semua anak mengatakan kepadaku bahwa aku terlihat seperti boneka. Itu adalah pertama kalinya mereka melihat orang multiras, jadi mereka sangat baik padaku," buka Somi.
Pada awalnya, Somi merasa diterima namun tiba-tiba ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari anak-anak lain. Semua itu berubah ketika Somi menjadi ketua kelas dan berlanjut selama tiga tahun.
"Mereka akan bermain dengan ku kapan pun mereka mau, tetapi keesokan harinya meja aku akan berada di aula. Mereka akan merobek kartu perpustakaanku dan menjejali sepatuku dengan sampah," ungkapnya.
Somi melanjutkan, "Itu terus memburuk. Pada saat itu, aku menulis kepada guruku tentang apa yang terjadi, dan mereka meluangkan waktu untuk mendengarkanku, tetapi aku menyadari bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa."
Ketika bicara, Somi menjadi semakin emosional membahas momen ingin melakukan oplas kepada orangtuanya. Dengan parasnya yang begitu bule, pelantun "Birthday" itu mengira akan lebih bisa diterima jika tampak sama Korea-nya dengan yang lain.
"Aku pikir hanya hidup dari hari ke hari. Aku bilang pada ibuku, aku tidak ingin pergi ke sekolah. Aku ingin terlihat lebih Korea, jadi aku bilang padanya bahwa aku ingin operasi kosmetik. Kupikir itu sudah berlalu, tapi sekarang membicarakan itu aku jadi sedikit (emosional). Kurasa aku benar-benar terluka," kata Somi.
Selanjutnya, Somi membicarakan tentang caranya mengakhiri perundungan yang diterimanya. Selama semester kedua di kelas enam, Somi mencoba berbicara dengan pelaku bully dan memberitahu mereka tentang penderitaannya.
"Setelah berbicara dengan mereka satu per satu, berita menyebar, dan anak-anak menyadari bahwa mereka juga tidak tahu mengapa mereka menindasku, dan untungnya kami bisa berbaikan sebelum lulus," tutup Somi.
(wk/inta)