Nangis Kejer, Dikta Ungkap Titik Terhancur dalam Hidup
Instagram/dikta
Selebriti

Dikta membeberkan salah satu kejadian menyayat hati dalam hidupnya. Yakni saat ia diberi tahu dokter bahwa mendiang ayahnya kala itu mengidap kanker hati stadium akhir.

WowKeren - Dikta mengaku bukan tipikal orang yang mudah menangis. Namun ada satu titik di mana ia tak mampu lagi menahan sesak di dalam dada hingga akhirnya menumpahkan air matanya begitu saja.

Hal itu terjadi saat Dikta baru tahu bahwa mendiang ayahnya ternyata mengidap sakit kanker hati stadium akhir. Saat itu Dikta merasa dunianya benar-benar runtuh. Dikta mengetahui ini langsung dari dokter saat menemani ayahnya yang kala itu dirawat di rumah sakit.

"Habis dari rumah sakit aku pulang ke rumah. Detik di mana aku nutup pintu, aku nangis di situ. Itu titik terhancur, kayaknya titik terhancur aku sebagai anak deh di situ," ungkap Dikta dalam tayangan YouTube Sinemaku Pictures, Kamis (20/7).

"Kayaknya itu nangis terparah aku setelah... kapan ya? Aku tuh bukan tipikal orang yang nangis sampai teriak, sampai kejer. Mungkin pas di rumah sakit aku masih syok kali, jadi nggak tahu harus ngapain. Sok cool aja," imbuhnya. "Terus pas sampai rumah, sendiri nggak ada siapa-siapa baru aku nangis sekejer-kejernya."

Nangis Kejer, Dikta Ungkap Titik Terhancur dalam Hidup

Source: YouTube


Saat di rumah sakit, Dikta mengaku tidak bisa menangis. Atau lebih tepatnya menahan diri untuk tidak menangis lantaran ia satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Dalam pikiran Dikta saat itu ia harus menguatkan anggota keluarganya yang lain.

"Pada saat itu aku takut kehilangan temen ngobrol. Takut kehilangan papa, 'Ini nggak ada lagi nih, orang yang se-absurd dia'. Apa pun yang diobrolin dia selalu ada jawabannya, 'Nanti kalau dia nggak ada, gue ngobrol sama siapa ya?'," tutur Dikta membeberkan ketakutannya.

Setelah meluapkan kesedihannya, Dikta pun kembali lagi ke rumah sakit dengan perasaannya yang masih hancur. Ini juga yang menjadi alasan Dikta enggan menemani di detik-detik ayahnya meninggal.

"Dalam hati, aku ngomong 'Aku nggak mau lihat papa meninggal'. Jadi sebelum dia meninggal aku pamit pulang, habis itu aku lihatin dia lama. Nggak tahu kenapa hari itu aku feeling dia bakal meninggal. Dan bener, baru setengah jam jalan, terus aku ditelefon 'Mas, balik lagi mas. Papa udah nggak ada'," pungkasnya.

Namun, Dikta merasa beruntung lantaran ia masih diberi kesempatan untuk menemani sang ayah selama 2-3 minggu di rumah sakit. Sebelum akhirnya sang ayah dipanggil oleh Yang Kuasa.

(wk/lara)

You can share this post!

Rekomendasi Artikel
Berita Trending
Berita Terbaru