Langkah G-Dragon dalam meluncurkan JusPeace Charity Foundation dinilai kritikus budaya Korea sebagai cara untuk mempertahankan posisinya sebagai seorang ikon.
- Intan Maharani
- Selasa, 13 Agustus 2024 - 13:41 WIB
WowKeren - G-Dragon telah meluncurkan JusPeace Charity Foundation baru-baru ini untuk membantu seniman muda menghadapi kecanduan narkoba. Langkah leader BIG BANG ini disebut kritikus budaya sebagai bagian dari usahanya mencoba jalur lain untuk mempertahankan popularitas dan status sebagai ikon budaya.
Sebelumnya, pada Juni 2024, G-Dragon berpartisipasi dalam forum Innovate Korea di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) dan diangkat menjadi dosen tamu di Departemen Teknik Mesin. Awal tahun ini, ia juga tampil di CES 2024 di Las Vegas, pameran dagang terbesar di dunia untuk konsumen dan teknologi informasi, yang memamerkan kemajuan terbaru dalam teknologi kecerdasan buatan.
Untuk itu, G-Dragon mendapat pujian dari banyak kalangan karena konsistensinya dalam merambah berbagai bidang. Sehubungan dengan itu, kritikus musik Lim Hee Yun ikut memberikan komentar.
“G-Dragon kini dianggap sebagai artis yang sudah melewati masa jayanya. Bagi generasi muda saat ini, dia sudah dikategorikan sebagai 'paman'. BIGBANG memang pernah menjadi ikon K-pop, tetapi mereka belum mencapai kesuksesan global seperti BTS. Mungkin dia ingin mempertahankan reputasi dan statusnya sebagai ikon budaya dengan menantang dirinya sendiri dalam bidang baru,” ujarnya.
Pendapat itu ternyata disetujui seorang pejabat industri hiburan. Menurut mereka, G-Dragon selalu selangkah lebih depan dibanding artis lain.
“G-Dragon selalu berdiri di luar para artis lainnya. Kreativitasnya dalam musik, mode, dan seni telah membedakannya, menjadikannya ikon budaya multifaset. Keputusan terbaru mungkin adalah keputusan pribadinya, mengingat artis dengan status sepertinya biasanya memiliki suara yang lebih kuat dalam perusahaan manajemennya tentang kegiatan masa depan,” terang pejabat itu.
Namun, peluncuran publik JusPeace Foundation sempat menuai reaksi beragam karena mengingatkan publik akan kasus narkoba yang pernah menjerat G-Dragon. Pada 2011, ia menghadapi tuduhan penggunaan mariyuana tetapi tidak diproses. Pada Oktober tahun lalu, ia kembali diselidiki oleh polisi Incheon atas penggunaan narkoba, tetapi tidak ada tuduhan yang diajukan karena kurangnya bukti yang kuat.
Terlepas dari kontroversi tersebut, kritikus budaya Bae Kuk Nam menemukan sisi positif dari pendirian fondasi ini. “Tentu saja, beberapa mungkin melihat kegiatan terbaru G-Dragon sebagai usaha untuk memperbaiki citranya setelah insiden mariyuana. Tetapi saya menilai secara positif penggunaan pengaruh dan ketenaran globalnya untuk memberikan dampak positif pada masyarakat,” kata kritikus Bae.
Selama ini, G-Dragon dikenal sebagai salah satu tren setter paling sukses dalam sejarah K-pop. Dia menjadi idola K-pop pertama yang mengadakan pameran seni solo di Seoul Museum of Art pada 2015 dan berpartisipasi dalam lelang khusus dengan Sotheby's pada 2019. Sejak 2016, dia juga menjadi duta global untuk merek mewah Prancis, Chanel.
Perbandingan dengan ikon K-pop terdahulu, seperti Yang Joon Il, yang juga dikenal dengan gaya estetikanya yang androgini dan inovasi dalam seni pertunjukan, semakin menegaskan tempat istimewa G-Dragon dalam budaya pop Korea. Terlepas dari masa lalunya yang kontroversial, G-Dragon terus membuka jalan baru dan memberikan inspirasi bagi banyak orang, baik di dalam maupun di luar industri K-pop.
(wk/inta)