Dian Sastro dan Raisa kolaborasi di sebuah pemotretan berkonsep hitam putih. Sama-sama pancarkan aura cantik nan anggun, visual penampilan Dian dan Raisa ini sukses bikin fans terpukau.
- Ria Susilo Wardhani
- Jumat, 20 Desember 2024 - 12:26 WIB
WowKeren - Dian Sastro dan Raisa sama-sama dikenal sebagai artis dengan skil gak kaleng-kaleng. Jika Dian berprestasi di jalur perfilman, Raisa unjuk kebolehan lewat suara emasnya sebagai penyanyi.
Kini, keduanya terciduk sedang kolabs untuk sebuah project. Bukan untuk film atau musik, Dian dan Raisa rupanya terlibat proyek pemotretan berkonsep hitam putih.
Dalam postingan video, Dian dan Raisa sama-sama tampil natural kenakan kemeja dengan rambut bergaya berantakan. Sama-sama cantik nan anggun, visual Dian dan Raisa langsung bikin fans auto kesengsem.
"Kayak kembar," kata netter. "Sama-sama cantik alami," kata yang lainnya. "Dua cewe ini bersatu yg laen lewaaat 🔥," ujar netter. "Real cantik tanpa oplas dan terkenal krn prestasi bukan sensasi," seru netter. "Dian sastro gak ada obat😍slalu menyalaaaa🔥," ujar netter.
Sementara itu, kuat dugaan jika video pemotretan tersebut merupakan dokumentasi lama. Pasalnya di 2018, Raisa juga pernah ungkap pemotretan berkonsep serupa dengan Dian.
Kala itu, Raisa mengaku salah tingkah saat pemotretan dengan Dian. Ini karena Raisa terpesona pada kecantikan Dian.
"Pemotretan bersama si cantik @therealdisastr yg selalu bikin salting krn kyk pgn ngeliatin dia terus tapi takut disangka aneh," kata Raisa.
Menariknya, Dian juga sempat berikan pujian buat penampilan Raisa. Hal ini terkuak ketika Dian jadi salah satu tamu di pernikahan Raisa dan Hamish Daud. "Raisa cantik banget ya, gaunnya juga cantik. Mamanya Yaya juga pakai hijabnya cantik," kata Dian.
Masih soal Dian, ia dulunya curi perhatian karena memutuskan mualaf di usia muda. Dian lantas beberkan alasannya memilih masuk Islam.
"Gue digedein dari keluarga yang lumayan warna-warni, terus gue digedein Katolik sama nyokap gue, gue udah sampai baptis komuni. Terus habis itu SMA, gua kayak mulai baca buku-buku filsafat terus gua langsung mikir, jangan-jangan nih gue sebenarnya kayak bokap gue. Gue sebenarnya jangan-jangan panggilannya Budha gitu," kata Dian. "Terus kata nyokap gue 'Ya sudah kamu coba cari aja yang bener tuh sebenarnya kamu apa (agamanya)? Bisa aja gitu', oke aku coba pelajarin semuanya, pelajarin Budha, tapi kok pertanyaan-pertanyaan filsafat gue enggak kejawab di biksu."
Dian juga belajar beragama mulai dari Kristen, Hindu, hingga Konghucu. Namun, ia tetap tak temukan jawaban dari pertanyaannya. Hingga akhirnya, Dian diajak sang tante untuk ikut pengajian.
"Sampai akhirnya tante gue, 'Yuk kita ikut pengajian ini ada pak Ustaznya', oh ya udah oke gitu," serunya. "Di situ gue juga tanpa ada ekspektasi apa-apa gitu ya. 'Pak Ustaz sebenarnya buat apa sih kita hidup begini?' Tiba-tiba dibuka lah ada kayak ayat Qur'an, pokoknya dia menjawab dengan sangat filosofis dan logis, yang gue juga enggak nyangka ternyata kejawabnya sama pemuka agama Islam. Saya kira Islam dulu kejam. Tapi saya ketemu guru yang dalam, sampai dia bisa membuka saya bahwa Islam tidak kejam. Intinya justru Islam itu penuh cinta."
Dari sanalah, Dian makin serius mendalami Islam hingga memutuskan menjadi mualaf. Ia resmi mualaf pada 2002.
(wk/riaw)