Jelajahi 7 masalah besar yang mengganggu produksi K-Drama di Korea Selatan.
- Sabtu, 14 Maret 2026 - 21:09 WIB
WowKeren - Industri produksi K-Drama di Korea Selatan terkenal di seluruh dunia berkat cerita yang memikat dan efek visual berkualitas tinggi. Namun, di balik kesuksesan tersebut, terdapat berbagai masalah tersembunyi yang mempengaruhi para produser, pemeran, dan kru. Dari biaya produksi yang meningkat hingga kondisi kerja yang berat, berikut adalah tujuh isu yang dihadapi oleh sektor hiburan populer ini.
1. Biaya Produksi dan Kompensasi Aktor yang Meningkat
Menurut laporan dari Kpopmap, seiring meningkatnya skala pembayaran untuk para aktor, biaya produksi juga ikut melonjak. Aktor bintang sekarang dapat menuntut bayaran lebih dari 1 miliar won per episode (sekitar US$850.000), berkat kekuatan finansial dari layanan streaming global. Hal ini berkontribusi pada penurunan kemampuan jaringan televisi domestik untuk berinvestasi dalam program baru karena pendapatan iklan yang terus menurun.
2. Urgensi dalam Sistem Live-Shooting
K-Drama cenderung menggunakan sistem 'live shoot', di mana episode ditulis, difilmkan, dan diedit beberapa hari sebelum tayang. Meskipun memberikan fleksibilitas terkait reaksi penonton, sistem ini sering menyebabkan kekacauan, dengan beberapa episode tidak terencana atau produksi yang terhenti. Praktik ini semakin tidak disukai seiring meningkatnya konten yang sudah diproduksi sebelumnya di platform streaming.
3. Jam Kerja yang Panjang dan Kondisi Kerja
Misalnya, rata-rata jam kerja produser melebihi 56 jam per minggu, sementara ada batasan hukum mengenai jam kerja. Di negara lain, jam kerja tidak boleh melebihi 40 jam. Beberapa produksi bahkan bekerja hingga 27-32 jam secara terus menerus. Budaya kerja yang berat ini berkontribusi pada kesehatan yang buruk di industri ini, meskipun ada upaya seperti batasan 52 jam kerja per minggu untuk memperbaiki kondisi tersebut.
4. Penurunan Jumlah Produksi Drama Secara Keseluruhan
Jumlah K-Drama yang diproduksi per tahun juga menurun, dari 135 pada 2022 menjadi 125 pada 2023, dengan perkiraan menunjukkan angka ini akan turun menjadi hanya 100, menurut Koreabiz Wire. Alasan untuk ini adalah tekanan ekonomi pada saluran siaran, serta layanan SVOD lokal yang memangkas jumlah produksi orisinal mereka hingga setengah, sementara raksasa luar negeri seperti Netflix terus meningkatkan produksi.
5. Perubahan pada Jumlah Episode dalam Serial
Kebutuhan akan penceritaan yang lebih padat dan cepat membuat serial memiliki hanya 8-12 episode, turun dari 16-20 episode yang biasanya diproduksi. Hal ini sebagian disebabkan oleh pengaruh binge-watching pada layanan seperti Netflix dan Disney+. Meskipun ini mengurangi jumlah episode filler, masalah pendanaan pun muncul.
6. Sensor dan Pembatasan Konten
Di Korea Selatan, undang-undang pers dan penyiaran mengatur konten yang mencakup benda tajam, merokok, dan merek asing untuk mencegah beberapa penonton terpengaruh pada perilaku yang tidak sehat. Organisasi seperti Korea Communications Standards Commission menegakkan aturan ini. Program-program yang kontroversial sering kali dilarang atau dipotong karena ketidakakuratan sejarah atau topik sensitif. Contoh termasuk acara seperti 'Snowdrop' dan 'Joseon Exorcist'.
7. Masalah Keamanan di Lokasi Syuting dan Isu Etika
Soompi mencatat bahwa cepatnya laju produksi adalah salah satu alasan terjadinya kecelakaan dan cedera. Selain itu, sistem live shoot terkadang mengutamakan waktu di atas keselamatan. Terakhir, perilaku para pemain juga mendapat kritik karena dianggap tidak sopan, seperti merekam video di tempat yang tidak seharusnya atau merusak situs budaya.