Pidato penerimaan K-Pop Demon Hunters di Oscar menuai kontroversi rasial. Simak selengkapnya.
- Senin, 16 Maret 2026 - 14:07 WIB
WowKeren - Di ajang Oscar tahun ini, grup K-Pop Demon Hunters berhasil meraih penghargaan untuk Lagu Asli Terbaik lewat lagu 'Golden'. Namun, pidato penerimaan yang disampaikan oleh EJAE menjadi sorotan karena siaran tiba-tiba terputus saat ia berbicara, memicu kontroversi rasial di kalangan penonton.
Situasi ini terjadi saat EJAE dan timnya sedang memberikan pidato, ketika siaran langsung tiba-tiba beralih ke iklan. Hal ini membuat banyak penonton merasa marah, terutama ketika menyadari bahwa pemotongan tersebut terjadi saat seorang pemenang asal Asia sedang berbicara. Seorang pengguna Twitter, Ashley Reese, mengungkapkan, "LET THE KOREAN MAN TALK."
Reaksi negatif pun bermunculan di media sosial, dengan banyak yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap pemenang non-Barat. Salah satu pengguna Twitter menulis, "Dari semua hal, mereka menghentikan pidato penerimaan dari pemenang Asia tanpa ragu, yang sangat menjengkelkan."
Beberapa netizen berpendapat bahwa pemotongan tersebut menunjukkan kebiasaan buruk Oscar yang telah berlangsung lama, di mana pemenang kategori kecil sering kali tidak mendapatkan perhatian yang sama seperti pemenang kategori utama. Komentar lain menyebutkan bahwa kejadian ini bukanlah yang pertama kali, dan bahwa Oscar terkenal dengan sikapnya yang dianggap kasar terhadap pemenang yang kurang terkenal.
Berikut video yang diunggah yang menunjukkan momen tersebut...
Reaksi dari netizen pun beragam, dengan beberapa berpendapat bahwa situasi ini lebih kepada diskriminasi penghargaan daripada rasial. Komentar lain menyoroti bahwa Oscar cenderung memperlakukan pemenang non-primer dengan kurang hormat. Seorang pengguna menuliskan, "Ini bukan rasial, ini diskriminasi penghargaan. Mereka tidak memotong pidato pemenang penghargaan utama."
Walaupun beberapa orang berpendapat bahwa penonton terlalu sensitif, banyak yang tetap merasa bahwa tindakan pemotongan tersebut sangat tidak sopan, terutama di saat pemenang dari budaya yang kurang terwakili sedang berbicara. Salah satu komentar menyebutkan, "Saya telah menonton Oscar berkali-kali, dan ini memang sering terjadi. Saya mengerti mengapa orang merasa marah, apalagi karena dia orang Korea."
Dalam konteks yang lebih luas, isu ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh artis non-Barat di industri hiburan global. Meskipun K-Pop semakin populer, masih ada stigma dan tantangan yang harus dihadapi oleh artis yang berasal dari Asia di panggung internasional.
Seiring dengan berkembangnya popularitas K-Pop dan budaya Asia di seluruh dunia, diharapkan kejadian seperti ini dapat memicu diskusi yang lebih mendalam tentang representasi dan penghargaan yang adil di panggung internasional, termasuk di ajang seperti Oscar. Seperti yang dikatakan banyak orang, "Kita harus menghargai semua pemenang, tidak peduli dari mana mereka berasal."
Semoga ke depannya, kita bisa melihat perubahan positif dalam cara penghargaan diberikan dan dihormati, sehingga semua artis, termasuk mereka dari K-Pop, dapat mendapatkan tempat yang layak di industri hiburan global.
(wk/timw)