Yoshida Masataka menghadapi kemungkinan pemecatan dari Boston Red Sox di musim 2026.
- Minggu, 29 Maret 2026 - 06:04 WIB
WowKeren - Yoshida Masataka, pemain bintang asal Jepang yang bermain untuk Boston Red Sox, saat ini berada dalam situasi sulit dalam kariernya. Menurut Ken Rosenthal dari 'The Athletic', posisi Yoshida di tim semakin terancam karena penampilannya yang menurun dan munculnya pemain muda berbakat lainnya.
Yoshida memulai karier profesionalnya di Jepang dengan Orix Buffaloes setelah terpilih di draft 2015. Selama tujuh tahun di Nippon Professional Baseball, ia mencatatkan statistik yang mengesankan: 884 hit, 133 home run, dan rata-rata batting 0.327. Prestasinya ini menarik perhatian para scout Major League Baseball (MLB), sehingga setelah musim 2022, ia menandatangani kontrak lima tahun senilai 9000 juta dolar AS dengan Boston Red Sox.
Meski awal kariernya di MLB terlihat cerah dengan penampilan yang menjanjikan di World Baseball Classic 2023, Yoshida mengalami masalah di musim reguler. Di tahun debutnya, ia tampil dalam 140 pertandingan dengan 155 hit dan 15 home run, namun penampilannya mulai menurun. Di musim 2024, ia hanya mampu mencatatkan rata-rata batting 0.280 dalam 108 pertandingan, sedangkan tahun lalu, performanya semakin merosot dengan rata-rata 0.266 dalam 55 pertandingan.
Kondisi ini membuat posisi Yoshida di Red Sox makin tidak aman. Selama offseason, berbagai rumor beredar mengenai kemungkinan transfernya, namun dengan gaji yang tinggi, proses tersebut tidaklah mudah. Meskipun Yoshida tetap bertahan di Boston dan menunjukkan peningkatan di WBC, kembalinya ke tim tidak berjalan sesuai harapan.
Rosenthal menyoroti bahwa dengan kehadiran pemain muda seperti Roman Anthony, Willi Abreu, Jarren Duran, dan Sedan Rafael, ruang bagi Yoshida semakin menyusut. Ia menyatakan, “Di Boston, tidak ada tempat lagi untuk Yoshida.” Ini adalah pernyataan yang cukup tegas dari Rosenthal, menunjukkan bahwa situasi Yoshida sangat krusial.
Lebih jauh, Rosenthal juga menyebutkan bahwa kepulangan pemain bintang yang cedera, Tristan Casas, bisa semakin memperburuk posisi Yoshida. Bahkan, ia mengisyaratkan kemungkinan Yoshida akan di-DFA (Designated for Assignment) jika performanya tidak meningkat.
Namun, tantangan terbesar bagi Yoshida adalah gajinya yang tinggi. Banyak pengamat menyebut kontraknya sebagai 'overpay', dan jika kinerja di lapangan tidak memuaskan, sulit bagi tim lain untuk menginginkan pemain seperti Yoshida. Dengan pertahanan yang lemah dan ketidakpuasan dalam perannya sebagai designated hitter, peluangnya untuk dipindahkan ke tim lain tampak semakin tipis.
Kini, Yoshida kembali menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah sepertinya berhasil membangun kembali reputasinya di WBC. Kesulitan yang dihadapinya menunjukkan betapa cepatnya perubahan dalam dunia olahraga profesional, di mana performa di lapangan adalah segalanya.
(wk/timw)