Kim Han Sol, YouTuber penyandang disabilitas, mengungkapkan kesedihannya akibat hujatan online.
- Minggu, 05 April 2026 - 06:03 WIB
WowKeren - Kim Han Sol, seorang YouTuber dengan 170 ribu pengikut yang juga penyandang disabilitas, baru-baru ini mengungkapkan kesedihannya terkait hujatan yang ia terima di media sosial. Dalam video yang diunggah pada 2 April 2026, ia membacakan komentar-komentar menyakitkan yang merendahkan hidup dan perjuangannya. Komentar tersebut tidak hanya merugikan secara emosional tetapi juga menunjukkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap disabilitas.
Salah satu komentar yang ia terima berbunyi, "보이는데 왜 안 보이는 척하냐" atau "Kalau bisa melihat, kenapa berpura-pura tidak bisa?". Hal ini mencerminkan betapa mudahnya orang-orang menyebarkan kebencian tanpa memahami konteks hidup orang lain. Kim Han Sol mengungkapkan bahwa ia telah mendengar komentar serupa selama tujuh tahun karirnya, dan rasa frustrasi ini semakin mendalam seiring berjalannya waktu.
Dalam video tersebut, Kim juga menyoroti berbagai tuduhan yang diterimanya, termasuk anggapan bahwa ia memanfaatkan disabilitasnya untuk meraih keuntungan finansial. Selain itu, ia juga menghadapi rumor tidak berdasar mengenai perlakuan buruk terhadap anjing peliharaannya, Tori. Komentar-komentar ini jelas menunjukkan ketidakpuasan dan kebencian yang mengakar dalam masyarakat.
Lebih dari sekadar komentar yang tidak sopan, serangan ini mencerminkan ketidakpedulian dan kebodohan banyak orang terhadap disabilitas. Kim Han Sol berusaha untuk tidak membiarkan komentar tersebut mempengaruhi hidupnya, namun ia mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat sepenuhnya kebal terhadap kata-kata menyakitkan.
“Setelah tujuh tahun, saya masih mendengar komentar yang sama. Rasanya sangat melelahkan,” ungkap Kim Han Sol dengan nada penuh keputusasaan. Ia berpendapat bahwa hujatan yang terus-menerus ini mengganggu kehidupan sehari-harinya dan mempengaruhi mentalnya.
Salah satu penyebab mengapa hujatan ini tidak kunjung surut adalah rendahnya konsekuensi bagi para pelaku. Meskipun terdapat undang-undang yang mengatur tentang pencemaran nama baik dan penghinaan di dunia maya, banyak pelaku yang hanya mendapatkan hukuman ringan seperti denda atau penyelesaian damai. Hal ini menciptakan siklus di mana pelaku merasa tidak ada konsekuensi serius untuk tindakan mereka, sehingga mereka terus melakukan hal tersebut tanpa rasa bersalah.
Hujatan di dunia maya adalah bentuk kekerasan yang tidak bisa diterima dan sangat merugikan mental seseorang. Para selebriti dan influencer seharusnya tidak hanya menerima saja, tetapi juga mengambil tindakan tegas terhadap komentar negatif dan penyebaran informasi yang salah. Harapannya, tindakan yang lebih jelas dan efektif dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini dan melindungi individu dari serangan yang tidak berdasar.
(wk/timw)