Timnas U-20 wanita Korea Selatan alami kekalahan telak 0-5 dari Korea Utara di AFC U-20.
- Kamis, 09 April 2026 - 11:41 WIB
WowKeren - Timnas U-20 wanita Korea Selatan, yang dipimpin oleh pelatih Park Yoon Jung, mengalami kekalahan menyakitkan 0-5 dari Korea Utara dalam pertandingan grup ketiga mereka di AFC U-20 Women's Asian Cup 2026 yang berlangsung di Stadion Pathum Thani, Thailand pada tanggal 8 April 2026. Meskipun Korea Selatan berhasil melaju ke babak knockout sebagai runner-up grup setelah mengalahkan Uzbekistan dan Yordania, kekalahan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keadaan sepak bola wanita di negara tersebut.
Kekalahan ini menjadi sorotan karena Korea Selatan tidak mencatatkan satu pun tembakan ke gawang selama pertandingan. Data yang dirilis oleh AFC menunjukkan bahwa Korea Utara meluncurkan 17 tembakan, dengan tujuh di antaranya tepat sasaran dan menghasilkan tiga gol. Sementara itu, Korea Selatan bahkan tidak mampu mencatatkan corner kick atau offside, yang menunjukkan kurangnya dominasi dalam permainan.
Meskipun hasil ini tidak langsung berimplikasi pada eliminasi, performa yang buruk ini menunjukkan adanya masalah mendalam dalam pengembangan sepak bola wanita di Korea Selatan. Selama beberapa tahun terakhir, para pengamat telah memperingatkan bahwa kompetisi di level internasional semakin ketat, dan kekurangan investasi dalam program pengembangan menjadi penyebab utama penurunan kualitas.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Korea, Chung Mong Kyu, baru-baru ini mengumumkan rencana pembangunan Korea Football Park dengan anggaran sekitar 400 miliar won, yang diharapkan menjadi pusat utama pengembangan sepak bola di Korea Selatan. Namun, kritik muncul bahwa fokus pada pembangunan infrastruktur tidak diimbangi dengan investasi dalam pengembangan pemain dan peningkatan kompetisi. "Korea Football Park bukan hanya fasilitas latihan, tapi akan menjadi pusat sepak bola Korea," ujarnya.
Walaupun pengembangan infrastruktur penting, jika tidak disertai dengan program yang mendukung pengembangan pemain, maka fasilitas tersebut akan menjadi kosong dan tidak efektif. Terutama dalam konteks sepak bola wanita, di mana kekurangan dukungan sistematis telah menjadi masalah yang berkepanjangan. Suara-suara dari pelatih dan pemain sering kali mengeluhkan minimnya dukungan untuk liga, sistem pemuda, dan pelatihan pelatih yang seharusnya membantu meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Dengan kekalahan ini, Korea Selatan menunjukkan bahwa mereka masih jauh dari menjadi pesaing yang kuat di Asia, terutama melawan tim-tim seperti Korea Utara, Jepang, dan Australia. Setiap generasi yang baru muncul semakin menunjukkan ketimpangan yang lebih besar. Kekuatan dan prestasi tidak dibangun dalam semalam; dibutuhkan komitmen jangka panjang dan investasi yang tulus untuk membangun kompetisi yang kuat dan sistem yang efektif.
Kekalahan melawan Korea Utara bukan hanya sekadar hasil buruk satu hari, tetapi juga mencerminkan prioritas yang salah dalam pengelolaan sepak bola wanita di Korea Selatan. Ini adalah panggilan untuk bertindak bagi semua pihak yang terlibat, agar lebih serius dalam mendukung pengembangan sepak bola wanita agar bisa bersaing di tingkat internasional.
(wk/timw)