Skandal di dunia olahraga Korea terkait pembaruan sertifikat atlet yang dibatasi tanpa alasan jelas.
- Jumat, 10 April 2026 - 13:12 WIB
WowKeren - Sports Ethics Center Korea telah mengajukan tuntutan disiplin berat terhadap A, seorang ketua asosiasi Hapkido di Gyeongbuk, karena membatasi pembaruan sertifikat seorang atlet tanpa alasan yang sah. Keputusan ini diambil setelah penyelidikan menunjukkan bahwa tindakan tersebut merupakan penyalahgunaan kekuasaan.
Menurut laporan, atlet B telah mengajukan permohonan resmi untuk memperbarui sertifikat Hapkido-nya pada April 2024. Berdasarkan peraturan yang berlaku, sertifikat yang diperoleh sebelum 30 Mei 2020 seharusnya dapat diperbarui tanpa syarat tambahan. Selain itu, tidak ada alasan disiplin yang teridentifikasi terhadap B.
Namun, A dilaporkan menolak permohonan tersebut dengan alasan bahwa B memiliki 'masalah karakter', dan kemudian menginstruksikan agar permohonan itu ditunda. Proses administrasi yang normal pun terganggu, terlihat dari penghapusan catatan permohonan di situs resmi.
Sports Ethics Center menilai tindakan tersebut sebagai keputusan yang tidak sesuai dengan regulasi dan merupakan penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, penyelidikan juga menemukan kasus pembatasan partisipasi B dalam kompetisi pada tahun 2019, di mana B, saat itu seorang pelajar, memenangkan posisi pertama di seleksi perwakilan Gumi tetapi dilarang ikut serta di tingkat provinsi oleh A. Meskipun temuan ini diakui, kasus tersebut tidak dapat diproses lebih lanjut karena batas waktu disiplin telah berlalu.
Mengingat bahwa sertifikat sangat berpengaruh terhadap karir atlet dan pelatih, tindakan A yang membatasi tanpa alasan sah dianggap sebagai pelanggaran serius. Dalam konteks ini, Sports Ethics Center meminta sanksi berat bagi A.
B, si atlet yang terdampak, menyatakan ketidakpercayaannya terhadap lembaga yang lebih tinggi. Dalam wawancara dengan Sportify News, ia mengatakan, “Sebelum melaporkan ke Ethics Center, saya sudah mengajukan masalah ini ke Gyeongbuk Sports Council. Namun, mereka hanya memberikan peringatan tanpa mengadakan sidang. Sangat sulit untuk menerima bahwa seseorang telah disakiti selama 6 atau 7 tahun dan hanya mendapatkan peringatan.”
B juga mengungkapkan harapannya agar masalah ini ditangani dengan serius, mengingat bahwa hasil investigasi yang tidak ditangani secara adil dapat membuat korban merasa bahwa laporan mereka sia-sia. “Saya berharap keputusan yang tepat akan diambil kali ini,” tambahnya.
Seorang perwakilan dari Gyeongbuk Sports Council mengonfirmasi kepada Sportify News bahwa mereka menunggu surat resmi dari Ethics Center dan berencana untuk mengadakan sidang disiplin sesuai prosedur yang ada.
(wk/timw)