"Selamat Pagi Kotaku", sebuah lagu yang menggugah karya Gombloh, melukiskan gambaran yang jelas tentang kehidupan di perkotaan. Melalui narasi yang kuat, lagu ini mengeksplorasi kontras antara pesona dan kekejaman yang melekat pada lingkungan kota. Sang narator merenungkan transformasi kota kelahirannya sejak masa kanak-kanak, di mana ia mengamati kesenjangan sosial dan perjuangan yang dihadapi orang-orang di sekitarnya. Dengan lirik-lirik yang tajam dan melodi yang meresap, "Selamat Pagi Kotaku" mempertanyakan sifat kehidupan kota, mengungkap kerentanan dan keuletan jiwa manusia yang hidup di tengah hiruk pikuknya.
Selamat Pagi Kotaku Lyrics
Gombloh
Aku dilahirkan di kota
di bangsal rumah sakit tua
rumahku sebaya umur kakekku
berdinding batu separuh bambu
dan aku coba mengerti
walau aku sering memaki
tingkah-tingkuh kotaku yang panas
berbaur debu dan keringat di badanku
orang bilang kotaku kejam
tak beda usia tak beda warna
bagai tangan hitam cengkeram
tubuh-tubuh tergolek disana
dulu aku tak perduli
walau aku sering kerutkan dahi
detak jantung berpacu dengan nafsu
sering terlihat nyata di depanku
satu kali ku berkhayal
hidup ini bersinar merata
tapi lamunanku buyar
oleh mimik seorang bocah
gelandangan kecil berdiri
dengan rasa ingin memiliki
sepotong roti di toko yang bersih
dan berjendela kaca
kulihat seorang perempuan baya
dengan orok di pangkuannya
larut malam di kaki lima
menunggu warung kopi miliknya
tak berdinding beratap rumbia
menempel di emper toko megah
esok 'pabila mentari tiba
ku tak tahu ia dimana
ri ... ri ... ri - ri ... ri - ri ... ri ...
kepincangan demi kepincangan
tak membuat aku jera
kehidupan yang keras ini
akan kuhadapi jua
tanpa terasa aku tengadah
kepada-Nya aku meminta
kotaku kan tegar berdiri
bukan hanya untuk ... satu generasi ...
di bangsal rumah sakit tua
rumahku sebaya umur kakekku
berdinding batu separuh bambu
dan aku coba mengerti
walau aku sering memaki
tingkah-tingkuh kotaku yang panas
berbaur debu dan keringat di badanku
orang bilang kotaku kejam
tak beda usia tak beda warna
bagai tangan hitam cengkeram
tubuh-tubuh tergolek disana
dulu aku tak perduli
walau aku sering kerutkan dahi
detak jantung berpacu dengan nafsu
sering terlihat nyata di depanku
satu kali ku berkhayal
hidup ini bersinar merata
tapi lamunanku buyar
oleh mimik seorang bocah
gelandangan kecil berdiri
dengan rasa ingin memiliki
sepotong roti di toko yang bersih
dan berjendela kaca
kulihat seorang perempuan baya
dengan orok di pangkuannya
larut malam di kaki lima
menunggu warung kopi miliknya
tak berdinding beratap rumbia
menempel di emper toko megah
esok 'pabila mentari tiba
ku tak tahu ia dimana
ri ... ri ... ri - ri ... ri - ri ... ri ...
kepincangan demi kepincangan
tak membuat aku jera
kehidupan yang keras ini
akan kuhadapi jua
tanpa terasa aku tengadah
kepada-Nya aku meminta
kotaku kan tegar berdiri
bukan hanya untuk ... satu generasi ...