"Matahari Bulan Dan Bintang", sebuah lagu karya Iwan Fals, mengeksplorasi dampak mengerikan dari perang saudara. Lirik lagu yang menyayat hati ini menyoroti hilangnya kemanusiaan, ketidaktahuan yang parah, dan penderitaan yang tak tertahankan yang terjadi ketika manusia melawan manusia. Iwan Fals mengutuk perang yang sia-sia dan mempertanyakan kesia-siaan pertumpahan darah, memprovokasi pemikiran yang mendalam tentang kengerian konflik dan kebutuhan mendesak untuk perdamaian.
Matahari Bulan Dan Bintang Lyrics
Iwan Fals
Aku sedang susah
Perang saudara didepan mata
Sana teman sini kawan
Korban sudah berjatuhan
Dimana tempatkan diri
Banyak orang yang kehilangan diri
Wakil rakyatnya malah dagelan
Sedangkan para pakar oleng dibentur kenyataan
Penyiar TV bergetar suaranya
Rakyat yang lapar saling menerkam
Ahli agama kewalahan
Seiman kok perang
Burung bangkai mengintip dari balik awan
Sesekali terbang diatas kepala
Sekejap menukik kedalam hati
Lalu bau kematian dihembus angin
Yang kibarkan bendera setengah tiang
Ada apa ini
Begitu mudahnya nyawa melayang
Padahal tanpa diundang pun
Kematian pasti datang
Apakah ini karma
Apakah ini dosa turuna
Apakah ini upah dari kebodohan
Aku ingin meledak
Seperti bom waktu aku terkucil
Detaknya pun ditimbun sampah
Kalau aku boleh mengeluh
Jalan masihlah jauh
Dunia kita satu
Kenapa kita tidak bersatu
Aku sedang susah
Rasanya ingin menjadi Hanoman atau Janggo
Aku sedang susah
Ya sedang susah
Perang saudara didepan mata
Sana teman sini kawan
Korban sudah berjatuhan
Dimana tempatkan diri
Banyak orang yang kehilangan diri
Wakil rakyatnya malah dagelan
Sedangkan para pakar oleng dibentur kenyataan
Penyiar TV bergetar suaranya
Rakyat yang lapar saling menerkam
Ahli agama kewalahan
Seiman kok perang
Burung bangkai mengintip dari balik awan
Sesekali terbang diatas kepala
Sekejap menukik kedalam hati
Lalu bau kematian dihembus angin
Yang kibarkan bendera setengah tiang
Ada apa ini
Begitu mudahnya nyawa melayang
Padahal tanpa diundang pun
Kematian pasti datang
Apakah ini karma
Apakah ini dosa turuna
Apakah ini upah dari kebodohan
Aku ingin meledak
Seperti bom waktu aku terkucil
Detaknya pun ditimbun sampah
Kalau aku boleh mengeluh
Jalan masihlah jauh
Dunia kita satu
Kenapa kita tidak bersatu
Aku sedang susah
Rasanya ingin menjadi Hanoman atau Janggo
Aku sedang susah
Ya sedang susah