Dirumorkan Jadi Kader Gerakan Penipuan NII KW 9, Dewi Sandra Pilih Tutup Mulut
Selebriti

Andy Soraya dan keluarga Arumi Bachsin juga membantah kabar miring kalau mereka menjadi kader pencucian otak gerakan doktrin keagamaan itu.

WowKeren - Masyarakat saat ini tengah diresahkan dengan hadirnya gerakan penipuan berkedok doktrin keagamaan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia KW 9 (NII KW 9). Modus operandi gerakan tersebut adalah menculik dan mencuci otak para korbannya. Menurut laporan Kompas, sejumlah selebriti sempat menjadi korban cuci otak tersebut dan akhirnya bergabung di gerakan NII KW 9. Hal ini diungkap langsung oleh mantan Menteri Peningkatan Produksi NII KW 9, Imam Supriyanto, saat mengisi diskusi "Dialektika Demokrasi" di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 5 Mei..

"Dewi Sandra pernah jadi anggota (NII). Andi Soraya juga. Enggak kelihatan kan itu," ungkapnya kepada wartawan. Saat dimintai penjelasan, Imam menolak berkomentar. Ia hanya menegaskan kalau mereka bergabung di saat tengah terlibat masalah pribadi.

Ditempat terpisah, Andi Soraya mengaku tak tahu tentang keberadaan NII. Sedangkan Dewi melansir di Twitter kalau ia memilih untuk "No Comment" dari masalah tersebut.

"Saya memilih untuk tidak komentar buat hal-hal tidak penting, untungnya saya juga sudah kebal sama berita miring dan tidak bertanggung jawab :)," tulis pemilik akun @dewisandra lewat Twitter. "Jadi media apapun sebelum memberitakan, tolong klarifikasi dulu biar bisa 'berita' yg bertanggung jawab :) peace!"


Selebriti lain yang juga jadi sasaran rumor sebagai anggota NII KW 9 adalah Arumi Bachsin, bintang sinetron yang sempat berseteru dengan orangtuanya dan kabur dari rumah itu. Untungnya, ayah Arumi, Rudi Bachsin, segera membantah gosip miring tersebut. Menurut Rudi, kabar burung tentang keterlibatan Arumi di NII KW 9 hanyalah sekedar pengalihan masalah yang kini jadi penyelidikan polisi.

Yang tak kalah seru, pengamat gerakan terorisme Al Chaidar mengungkapkan pada Metro TV kalau gerakan NII KW 9 adalah palsu dan hanya bentukan pemerintah. Menurut Al Chaidar, gerakan itu dibentuk untuk mencegah radikalisme yang berkembang di Indonesia, terutama dari gerakan NII asli yang di era 1950an bernama Darul Islam yang pernah melancarkan pemberontakan dengan sebutan seperti DI/TII Amir Fatah dan DI/TII Kahar Muzakar.

"NII KW 9 dibiarkan itu karena program deteksi pemerintah sangat efektif mengkonter radikalisme di Indonesia. KW 9 bentukan pemerintah, melakukan deradikalisasi, misalnya dakwah. Ada yang terjerumus dari asli ke palsu. Kalau yang palsu diperas, akhirnya NII yang asli hilang semua. Jaringan NII hilang," kata Al Chaidar di gedung DPD, Jakarta, Jumat 6 Mei. "Dana hasil pengumpulan kader itu masuk ke oknum-oknum intelijen di Pondok Pesantren Al Zaytun yang dipimpin A.S. Panji Gumilan, itu kan semacam BUMN, non-budgeter tidak masuk kas negara."

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait