Menurut ahli komputer Universitas Johns Hopkins, pesan di Twitter mampu menjadi sumber untuk melacak dan mengobati masalah penyakit ringan hingga berat.
- Tim WowKeren
- Sabtu, 09 Juli 2011 - 10:52 WIB
WowKeren - Rupanya, jejaring sosial Twitter punya manfaat lain selain sebagai sarana komunikasi dan akses informasi. Ahli komputer di Universitas Johns Hopkins, Baltimore, Maryland, Amerika, saat ini tengah melakukan penelitian untuk mengetahui apakah posting di Twitter bisa dijadikan alat monitor kesehatan.
Untuk penelitian tersebut, ilmuwan di Universitas Johns Hopkins mengumpulkan 2 juta tweet milik umum yang diposting sekitar Mei 2009 dan Oktober 2010. Mereka kemudian menggunakan software untuk menyaring sekitar 1,5 juta pesan yang berkaitan dengan masalah kesehatan seperti depresi, flu, penyakit sulit tidur (insomnia), obesitas, luka, alergi dan berbagai penyakit lainnya.
"Tujuan utama kami adalah mengetahui apakah status Twitter bisa menjadi sumber penting untuk mengungkapkan informasi kesehatan masyarakat dan kami merasa yakin kalau hal itu memang bisa," ujar salah satu ilmuwan komputer, Mark Drezde. "Dalam satu kasus, kami mempelajari kemungkinan kalau para dokter yang memiliki Twitter bahkan tidak tahu kalau tweet mereka digunakan orang lain dari rumah mereka untuk mengobati penyakit."
Penelitian seputar penggunaan Twitter untuk menemukan masalah kesehatan memang bukan hal baru. Namun, ahli komputer Universitas Johns Hopkins mengklaim kalau proyek mereka ini termasuk metode baru karena penyakit yang dimonitor tak sebatas virus flu saja. Bahkan, peneliti juga menemukan banyaknya masalah penyalahgunaan obat yang dibahas di Twitter.
"Kami menemukan beberapa orang menulis pesan kalau mereka menggunakan antibiotik untuk flu," kata ahli komputer Michael J. Paul. "Tapi antibiotik tak bekerja untuk mengobati flu, yang sebenarnya sebuah virus, dan penelitian ini memperlihatkan kalau terjadi kesalahpahaman medis yang serius di luar sana."
Tweets juga bisa digunakan untuk melacak lokasi terjadinya wabah penyakit. Dari sekitar 200.000 tweets berkaitan dengan kesehatan, peneliti mampu mengetahui lokasi penyedia informasi umum. Mereka kemudian melacak beberapa trend berdasarkan waktu dan tempat. Hasilnya, peneliti menemukan lokasi awal penyebaran suatu virus flu atau penyakit alergi dalam satu waktu. "Kami bisa melihat dari tweets bahwa musim alergi dimulai di negara bersuhu hangat dan menyebar di barat tengah dan utara Amerika Serikat," kata Mark.
(wk/)