La Nyala Mattalitti: PSSI Kok Cari Duit
SerbaSerbi

La Nyala bersama dua anggota Komite Eksekutif PSSI lainnya merestui langkah 14 tim untuk menggelar kompetisi Liga Super Indonesia (LSI).

WowKeren - Salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, La Nyala Mattalitti, menyoroti kebijakan pembagian saham PT Liga Prima Indonesia Supertindo (LPIS) yaitu sebesar 70 persen untuk PSSI dan 30 persen untuk klub. Karena hal itu tidak sesuai dengan kesepakatan kongres PSSI di Bali beberapa waktu lalu.

Dalam kongres tersebut, pembagian saham adalah sebesar 99 persen untuk klub. Sementara PSSI hanya akan mendapat 1 persen saja.

"Saya sempat tanya ke Pak Djohar (Djohar Arifin, ketua umum PSSI) tentang kebijakan PT LPiS itu dan dia hanya bilang, 'Kalau tidak seperti itu dari mana PSSI akan dapat uang'," ungkap La Nyala dalam program Metro TV, "Metro Pagi", Sabtu (22 Oktober). "Saya katakan, PSSI kok cari duit. PSSI ini lembaga yang mewadahi kompetisi sepakbola Indonesia. Kalau untuk biaya operasional, nanti PT LSI yang memberikan royalti."

Selain itu, La Nyala juga tetap menolak keputusan PSSI menyelenggarakan Indonesian Premier League (IPL) dengan menunjuk PT LPIS sebagai penyelenggara. Makanya, La Nyala mendukung 14 tim yang akan menggelar Indonesian Super League (ISL) dengan penyelenggara adalah PT Liga Indonesia.


"Ini bukan liga tandingan, justru IPL itu yang kompetisi tandingan karena tidak sesuai dengan statuta," kata La Nyala. "Hasil amanat kongres PSSI di Bali sudah memutuskan bahwa kompetisi diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia dengan nama kompetisinya Indonesian Super League (ISL) dan pesertanya 18 tim."

"Jadi saya dan anggota Komite Eksekutif lainnya merestui kompetisi yang bakal dilakukan 14 tim itu, meski belum ada ijin dari PSSI," lanjut La Nyala. "Dan Insya Allah itu pasti terlaksana."

Sementara itu, Saleh Ismail Mukadar yang baru diangkat menjadi Deputi Sekjen Bidang Kompetisi PSSI mengatakan bahwa apa yang dilakukan PSSI itu untuk mengangkat sepakbola Indonesia. "Beberapa musim kompetisi kita hanya dibiayai Rp 10 miliar setahun dan sekarang bisa dapat sampai Rp 100 miliar satu tahun. Itu baru dari satu stasiun TV belum yang lainnya. Dan tahun-tahun mendatang akan lebih meningkat lagi," kata Saleh.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait