"Lolos ke putaran tiga menjadi keberhasilan Wim setelah terakhir saat Kualifikasi Piala Dunia 1986. Kami tidak akan memecatnya," kata Djohar Arifin.
- Tim WowKeren
- Rabu, 16 November 2011 - 09:33 WIB
WowKeren - Hasil buruk yang diderita timnas Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014 tentunya menjadi tanggungjawab Wim Rijsbergen sebagai pelatih. Kinerja Rijsbergen pantas mendapat rapor merah. Karena itu sudah selayaknya dievaluasi, bahkan dipecat.
Namun, menelan lima kekalahan beruntun dengan skor telak belum juga membuka mata PSSI untuk mengevaluasi kemampuan dan kinerja pelatih asal Belanda itu. Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husein, memastikan tidak akan melengserkan Rijsbergen dari kursinya.
Orang nomor satu di PSSI itu memiliki penilaian tersendiri pada pelatih asal Belanda itu. Pengganti Nurdin Halid ini justru beranggapan bahwa Rijsbergen tidak gagal.
"Wim akan tetap kami pertahankan dan ini bukan sebuah kegagalan. Lolos ke putaran tiga menjadi keberhasilan Wim setelah terakhir saat Kualifikasi Piala Dunia 1986," kata Djohar. "Lagipula, dia menangani tim ini juga belum lama, jadi tidak bisa dibilang gagal. Kami tidak akan memecatnya."
PSSI mengangkat Rijsbergen sebagai pelatih kepala timnas Indonesia menggantikan Alfred Riedl tanpa sebab yang jelas. Padahal Alfred sudah terlanjur dicintai publik Indonesia karena berhasil menghantar Bambang Pamungkas dkk sampai ke final AFF 2010. PSSI Mengontrak Rijsbergen selama dua tahun atau sampai 2013.
Selain menolak untuk memecat Rijsbergen, wacana untuk mengangkat Rahmad Darmawan menjadi pelatih Timnas senior juga tidak diterima. "Rahmad sudah ditugaskan untuk membentuk dan menangani tim SEA Games 2013," ujarnya.
Djohar Arifin boleh saja membela pelatih Wim Rijsbergen dengan mati-matian. Namun, publik Indonesia tetap menilai Rijsbergen gagal. Bahkan, sebagian kalangan mulai merasa heran dengan sikap pimpinan induk organisasi sepakbola Indonesia itu mempertahankan Rijsbergen yang kinerja dan pola serta strateginya tidak kompeten.
"Dalam beberapa kali pertandingan, Timnas Indonesia bukan hanya kalah telak, baik melawan Qatar maupun Iran. Namun, dari pola dan strategi permainan yang diterapkan pelatih Wim ini memang patut dipertanyakan," ujar seorang pengamat sepakbola asal Malang, Yunan Syaifullah. "Timnas Indonesia tiba-tiba dibiasakan main long pass padahal anak-anak lebih cocok dengan umpan bola-bola pendek dan cepat. Wim juga sering mengganti skema permainan tapi tidak jelas arahnya."
Karena itu, terang Yunan, merupakan hal yang wajar bila publik bola Indonesia mempertanyakan kinerja dan potensi kepelatihan Rijsbergen. "Anehnya, Ketum PSSI enggan melakukan evaluasi, apalagi memecat pelatih Wim. Padahal, prestasinya menangani timnas sudah jelas sangat memprihatinkan," lanjut Yunan.
(wk/)