Google Bantah Lakukan Pembajakan di Internet
SerbaSerbi

Menyangkal tudingan pemilik News Corps, Rupert Murdoch, juru bicara menegaskan Google justru menentang pembajakan dan pemalsuan informasi via internet.

WowKeren - Raja media Rupert Murdoch baru-baru ini menuding Google sebagai pembajak. Menanggapi hal itu, juru bicara perusahaan teknologi pengembang search engine dan Android ini segera memberikan bantahan.

"Tuduhan itu tak masuk akal," kata juru bicara wanita dari Google. "Tahun lalu, kami menghapus 5 juta halaman Web palsu dari mesin pencari kami dan berinvestasi lebih dari USD 60 juta (setara Rp 600 miliar) untuk memerangi iklan buruk. Kami melawan pembajakan dan pemalsuan setiap harinya."

Ditambahkan jubir wanita Google, metode terbaik untuk menentang pembajakan adalah dengan memiliki lisensi resmi atau legitimasi hukum. "Sama seperti perusahaan teknologi lainnya, kami percaya bahwa cara terbaik untuk menghentikan pembajakan adalah dengan undang-undang yang bisa menutup situs pembajak atau pemalsu," kata juru bicara tersebut.

Sebelumnya, Rupert mengunggah Tweet yang menuding Google melakukan pembajakan karena layanan penyedia streaming film gratis via YouTube. "Pembajakan dipimpin oleh Google, yang menyiarkan film gratis dan menjual iklan palsu di sekitar mereka," kata pemilik News Corps tersebut di Twitternya, Sabtu (14/1).


Rupert memang kurang akur dengan Google. Pemilik Harian The Sun, Fox TV dan The Wall Street Journal, tersebut pernah mengajukan gugatan karena Google dianggap mencuri konten dari medianya.

Tak hanya Google, Rupert juga mengkritisi Presiden Barack Obama menentang rencana pengajuan undang-undang Stop Online Piracy Act (diajukan Kongres Amerika Serikat) dan Protect IP Act (diajukan di tingkat senat). Pertimbangannya, undang-undang tersebut nantiya justru dikhawatirkan akan menghalangi kebebasan berekspresi di internet dan inovasi perusahaan.

Menurut Rupert, penentangan itu justru mengindikasikan kalau Obama melindungi kepentingan perusahaan tertentu. "Jadi Obama telah bergabung dengan para pembayar pajak di Silicon Valley yang mengancam semua kreator software dengan pembajakan dan tudingan pencurian," kata Rupert.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!