Pemerintah Perancis akhirnya memilih mengamankan kedutaan besarnya di 20 negara karena tidak bisa melarang penerbitan karikatur tersebut.
- Tim WowKeren
- Kamis, 20 September 2012 - 10:54 WIB
WowKeren - Dunia saat ini digegerkan dengan kontroversi film anti-Islam, "Innocence of Muslim". Situasi ini tampaknya akan semakin memanas jika majalah di Perancis nekat menerbitkan karikatur Nabi Muhammad. Pemerintah Perancis pun terpaksa mengambil langkah pengamanan dini untuk mencegah kontroversi anarkis.
Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, menyatakan kekhawatirannya pada 20 karikatur yang akan diterbitkan majalah Charlie Hebdo. Karikatur itu mengolok-olok protes melalui kekerasan yang baru-baru ini terjadi untuk menentang Amerika Serikat. Protes tersebut dipicu oleh film yang dianggap menghina Nabi Muhammad dan dibuat di Amerika yaitu "Innocence of Muslim".
Pemerintah pun memutuskan akan menutup sementara kedutaan, konsulat, pusat kebudayaan dan sekolahnya di sekitar 20 negara pada Jumat mendatang (21/09). Perancis melakukannya untuk berjaga-jaga karena khawatir timbul ketegangan setelah sholat Jumat. Khusus untuk Tunisia, pemerintah menutup Kedutaan Besar dan sekolahnya mulai hari ini juga, Kamis (19/09).
"Jelas saya telah memberikan instruksi sehingga langkah-langkah pengamanan khusus diambil di semua negara yang berisiko timbul masalah dan bahwa semua warga negara kita harus berhati-hati," kata Laurent Fabius. Peringatan untuk waspada juga berlaku bagi warga Perancis yang berada di Afghanistan, Arab Saudi, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Pakistan, Irak, Libia dan Yaman.
Sebelumnya Perdana Menteri, Prancis Jean-Marc Ayrault, sudah menyatakan keberatannya akan rencana majalah Charlie Hebdo. Namun hal itu tidak digubris oleh Stephane Charbonnier, sang redaktur majalah, yang mengaku menerbitkan karikatur ini sebagai rutinitas semata.
"Kita membuat karikatur berbagai macam orang, setiap minggu, dan ketika kita membuat karikatur Nabi Muhammad atau sesuatu tentang Islam, ini disebut provokatif," ucap Stephane. "Bukan, ini bukan provokasi. Ini tergantung siapa yang berada di baliknya yaitu pembaca."
(wk/)