Kesepakatan dibatalkan serta JC alias Komite Gabungan dibubarkan karena PSSI menilai KPSI tak menepati janji dalam mengatasi masalah dualisme organisasi sepak bola Tanah Air.
- Tim WowKeren
- Senin, 10 Desember 2012 - 13:26 WIB
WowKeren - Kongres Luar Biasa PSSI di Palangkaraya, Senin (10/12), telah selesai digelar. Hasilnya, KLB PSSI menetapkan pembatalan MoU dengan KPSI dan membubarkan Joint Committee (JC) yang selama ini ditugasi untuk menyelesaikan konflik antara PSSI-KPSI.
KLB PSSI ini dicatat oleh wakil AFC dan FIFA dan akan diajukan ke sidang Komite Eksekutif FIFA di Tokyo, Jepang pada 14 Desember. Wakil FIFA dan AFC yang datang ke Palangkaraya sebagai peninjau, yakni Marco Leal (Manajer Asosiasi- asosiasi Anggota FIFA), James Kitching (wakil AFC), dan Jeysing Muthiah (wakil FIFA).
"FIFA dan AFC sebagai observer telah menyaksikan sendiri bagaimana kita menyelenggarakan kongres dalam kesulitan ini hingga digelar di lobi hotel," jelas Sekretaris Jenderal PSSI Halim Mahfudz di Palangkaraya. "Para pemilik suara sepakat MoU dibatalkan karena tidak hentinya KPSI melakukan pelanggaran dan JC secara aklamasi dibubarkan."
Pelanggaran KPSI diantaranya membentuk Timnas Indonesia sendiri dan menghalangi pemain untuk membela timnas. KLB PSSI ini juga membahas diantaranya perubahan statuta, pengembalian empat anggota komite eksekutif PSSI yang dipecat dengan syarat meminta maaf dan diberi waktu satu bulan serta penyatuan liga.
KLB hanya digelar 30 menit di lobi Hotel Aquarius Boutique Hotel di Jalan Imam Bonjol Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Rapat digelar di lobi karena izin pelaksanaan KLB PSSI Palangkaraya, dicabut Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah, sebagai respon atas keputusan pemerintah melalui Kemenpora yaitu tidak merekomendasi KLB PSSI Palangkaraya yang dinilai melanggar MoU antara PSSI dan KPSI.
Sementara itu, KPSI saat ini juga menggelar kongres di Hotel Sultan Jakarta yang dihadiri 83 pemilih aktif hasil kongres Solo. La Nyalla Mattalitti selaku salah satu anggota menolak untuk satu kongres dengan PSSI Djohar Arifin.
"Sebetulnya bukan tulus atau tidak tulus, ini lebih kepada halal dan haram. Kongres berpatokan pada MoU, membedakan mana peserta halal dan haram itu mudah. Kalau peserta Palangkaraya itu haram, peserta KLB Solo itu halal. Bagaimana juga bisa menggabungkan halal dan haram?" kata La Nyalla. "Sampai detik ini belum ada verifikasi. Informasi yang kami terima, mereka akan menggunakan voters Palangkaraya. Mereka kemudian bilang ada peserta dari KLB Solo yang hadir. Jelas ini kebohongan publik. Kalau kebohongan ini terus dilakukan, maka akan ketahuan juga."
(wk/)