Ibu terduga teroris yang tewas, Nurseha, mengungkapkan putranya ditembak saat tengah tertidur.
- Tim WowKeren
- Selasa, 16 Februari 2016 - 17:16 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu Tim Densus 88 dilaporkan menggrebek terduga teroris di Bima, Nusa Tenggara Barat. Salah seorang terduga teroris bernama Fajar dikabarkan tewas dalam baku tembak saat penggrebekan terjadi. Namun ibu dari Fajar, Nurseha, membantah putranya tewas dalam baku tembak.
Menurut kesaksiannya, Fajar ditembak saat tengah tidur. Selain itu, Nurseha juga membantah adanya senjata di kediamannya.
"Saya tidak disuruh melihat oleh polisi yang datang," ujar Nurseha pada Selasa (16/2). "Saya tidak menyangka tertembak dan tiba-tiba sudah meninggal. Fajar tewas karena tertembak dalam keadaan tengkurap."
"Saat mayat dibawa, saya tidak diijinkan masuk," tambahnya. "Tidak ada baku tembak, tidak ada senjata di rumah saya."
Keterangan Nurseha ini tentunya bertentangan dengan kabar yang beredar. Bahkan, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti telah memastikan bahwa salah seorang polisi tertembak di bagian lengan karena baku tembak yang terjadi dengan terduga teroris. "Satu anggota kita tertembak kena tangannya, masih di rumah sakit. Satu tersangka meninggal dunia," ujar Badrodin pada Selasa (16/2/2016).
Badrodin juga menuturkan bahwa terduga teroris dalam penggrebekan Bima terkait dengan jaringan Santoso di Ploso. Selain itu, pihak kepolisian menemukan senjata milik anggota Polri dalam penggrebekan di Bima. Senjata itu diambil dari Kapolsek Ambalawi yang ditembak oleh teroris.
"Istrinya Santoso itu dari Bima, istri keduanya. Ada beberapa orang di Bima terkait Santoso. Dan yang sudah di Poso pun ada yang bergabung dengan Santoso," ujar Badrodin pada Selasa (16/2/2016). "Kelompok ini juga terlibat dengan penembakan anggota Polri di Poso beberapa hari lalu."
(wk/)