Filipina Ikut Diskusikan Strategi Terkait Penyanderaan 10 WNI Oleh Abu Sayyaf
Nasional

Filipina selama ini dikenal tak pernah mau membayar tebusan untuk kelompok militan yang sering menyandera.

WowKeren - Kelompok teroris Abu Sayyaf telah menculik 10 Warga Negara Indonesia (WNI) saat Kapal Brahma 12 melintasi perairan Filipina. Kelompok militan itu meminta uang tebusan 50 juta peso atau sekitar Rp 15 miliar pada pemerintah Indonesia.

Kabar ini pun telah sampai ke telinga Kepala Militer Filipina Jenderal Hernando Iriberri. Ia lalu terbang ke Mindanao untuk memeriksa situasi dan kondisi terakhir sekaligus mendiskusikan langkah yang harus diambil untuk membebaskan korban.

"Angkatan Bersenjata Filipina melalui Komando Mindanao Barat menerima informasi bahwa ada kru kapal hilang dari kapal asing di wilayah Zambasulta," ujar juru bicara militer Filipina Jenderal Restituto Padilla dilansir dari AFP, Selasa (29/3). "Kami belum bisa mengkonfirmasi informasi ini sekarang, kami masih memvalidasinya."


"Kami akan mengeluarkan pernyataan bila sudah ada kepastian bahwa insiden ini memang terjadi. Sementara itu, semua pasukan kami waspada, siap membantu jika diperlukan," sambung Padilla. Pernyataan itu berbanding terbalik dengan 2 pejabat militer lainnya.

Dilansir dari Reuters, 2 pejabat militer Filipina sebelumnya telah mengkonfirmasi jika memang ada 10 WNI yang berada di dalam kuasa Abu Sayyaf. Mereka juga membenarkan jika kelompok teroris itu meminta uang tebusan sebagai gantinya.

Selama ini pemerintah Filipina dikenal memiliki kebijakan "no ransom policy", yang berarti tak akan memberi tebusan sama sekali. Namun, pihak asing yang disandera kerap membayar tebusan sebagai upaya pembebasan pihaknya.

(wk/)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!